Otak Punya Batas Mencerna Berita Buruk, Bagaimana Mengelolanya?
rti | CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 20:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kebanjiran berita buruk bisa membuat kita alami kelelahan mental. Namun berita buruk tak bisa dihindari. Ini cara mengelolanya dengan tepat. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Berita buruk tak henti-hentinya muncul di depan mata. Baik itu di koran, televisi, media sosial, notifikasi, hingga kabar berantai yang ada di grup aplikasi chat.
Hari ini mungkin ada informasi tentang unjuk rasa, disusul informasi harga bahan pokok naik. Belum selesai kasus keracunan makanan atau perseteruan pasangan artis, sudah muncul lagi berita tentang bencana.
Di satu sisi, kita turut berempati terhadap orang-orang yang mengalami musibah. Di sisi lain, kita juga bisa rentan kelelahan mental karena intensnya arus kabar buruk.
Situasi ini jadi menimbulkan pertanyaan, seberapa besar kapasitas emosional manusia dalam menghadapi terpaan kabar negatif?
Arus deras berita, masalah manusia modern
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi membuat manusia jadi mudah terhubung satu sama lain. Kabar terbaru bisa langsung didapat dengan usapan di ponsel pintar. Namun, ini juga yang jadi masalah manusia modern.
"Baru bangun, nih. Kita belum siap secara emosi dan kesadaran, kita sudah langsung dibanjiri oleh berita-berita negatif. Nah, itulah yang sebenarnya membuat kita jadi overwhelmed," ujar magister psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Putra Wiramuda, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).
Putra mengatakan, manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan dalam memproses kabar negatif. Padahal, sejak zaman primitif, otak manusia hanya didesain menghadapi satu masalah di satu waktu.
Merunut lagi ke masa lampau, selama ratusan ribu tahun, otak manusia purba sudah terbiasa hidup di iklim primitif. Pada periode tersebut, kabar buruk cenderung minim. Misalnya, bertemu dengan binatang buas hanya sesekali saja.
Namun, manusia modern yang sejak 1990-an mulai mengenal internet dan pakai media sosial sekitar 20 tahun terakhir, setiap harinya dibanjiri oleh banyak berita, baik itu negatif maupun positif.
Hal ini membuat porsi berita buruk yang diterima setiap harinya melebihi kapasitas psikologis yang otak bisa cerna.
"Apalagi ada kecenderungan manusia itu memang jauh lebih mudah mengingat berita-berita yang negatif, yang namanya bias negativitas. Nah, itulah yang membuat kita justru malah jadi lebih mudah stres, lebih mudah terpantik emosinya," tutur praktisi mindfulness ini.
Tanda-tanda mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk
Seseorang sering kali tidak sadar atau mindful sudah mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk.
Putra membagikan setidaknya tiga tanda seseorang mengalami kelelahan tersebut yang bisa dijadikan deteksi dini.
"Sebaiknya memang kita butuh untuk lebih mindful lagi, ya, untuk merawat diri kita dulu misalnya, sebelum bertindak berlebihan," ucap praktisi di Myndfulact, Menjadi Manusia, hingga Ikigai Consulting ini.
1. Lebih mudah emosional
Tanda pertama, yakni jadi lebih mudah emosional, seperti mudah marah, sedih, hingga cemas. Bisa juga terus-menerus merasa lelah, meski tak banyak aktivitas yang dilakukan.
"Kadang-kadang kalau kita scrolling, tubuh kita kan diam sebenarnya, enggak ngapa-ngapain, tapi pikiran kita kan ke mana-mana. Nah, pikiran yang ke mana-mana itu juga draining energi," kata Putra.
2. Merasa tak berdaya dan pasrah
Ia melihat ada satu fenomena yang muncul di media sosial, yakni orang mulai menormalisasi berita negatif. Banyak yang berpendapat, hidup di negeri 'Konoha' terasa lebih normal membaca berita negatif ketimbang positif. Bahkan, ada yang kaget jika melihat berita positif.
Putra menganggapnya sebagai alarm bahaya. Ada kepasrahan di balik sikap-sikap tersebut, sehingga tak ada lagi perjuangan dan keberdayaan untuk menghadapi tantangan hidup.
Baca halaman selanjutnya...
3. Sulit berhenti dan memengaruhi kesehatan fisik
Tanda ketiga, seseorang jadi sulit berhenti untuk doom scrolling. Di satu sisi merasa tak nyaman dengan kabar buruk, tetapi takut pula ketinggalan informasi terkini.
"Kalau terus-menerus terjadi, akhirnya tubuh kita juga jadi ikut terkena dampak. Stres yang berkelanjutan tentu akan bikin asam lambung naik, kita jadi sensitif, lebih mudah terkena GERD gitu, ya," tutur Putra.
Selain gangguan fisik, produktivitas juga bisa menurun dan merusak relasi dengan orang terdekat karena pengaruh emosi negatif akibat paparan berita buruk.
Terkait efek paparan berita buruk terhadap kesehatan fisik, sudah terbukti pula dalam sejumlah penelitian. Salah satunya, studi Bryan McLaughlin et al. di jurnal Health Communication (2024).
Para peneliti membuktikan ada respons fisiologis dari orang yang mengonsumsi berita buruk atau (problematic news consumption/PNC). Tubuh bereaksi sebelum pikiran memutuskan apakah ancaman tersebut relevan.
Hasil studi menunjukkan, 17 persen partisipan memiliki tingkat PNC yang parah. Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya melaporkan merasa tidak sehat yang cukup parah. Hanya 6 persen yang menyatakan baik-baik saja.
Bukan menghindari berita buruk, ini yang perlu dilakukan
Bias negativitas menunjukkan, manusia cenderung fokus ke berita buruk, terus mencari sesuatu yang mengancam. Akibatnya, emosi jadi tidak stabil, stres, kecewa, hingga lelah mental dan fisik. Upaya untuk mencari terus inilah yang membuat seseorang terjebak doom scrolling.
"Yang pada akhirnya, jangan-jangan bisa membuat secondary traumatic stress," tutur Putra.
Berita buruk tak perlu langsung dihindari. Alih-alih langsung menghindari, Putra mengajak kita untuk terlebih dahulu mengenal batasan diri.
Ketika tahu seberapa besar kapasitas kita dalam menerima kabar buruk, kita tahu kapan harus berhenti mengumpulkan informasi. Kemudian, lihat permasalahan secara utuh dari informasi yang terkumpul.
"Di satu sisi, memang kita butuh sadar, tahu apa sih, isu-isu sosial. Tapi di sisi lain, 'oke, informasinya begini cukup.' Pertanyaan selanjutnya, 'apa yang bisa saya lakukan untuk membantu meringankan mereka?'," tutur penulis buku Di Sini dan Saat Ini.
Jakarta, CNN Indonesia --
Berita buruk tak henti-hentinya muncul di depan mata. Baik itu di koran, televisi, media sosial, notifikasi, hingga kabar berantai yang ada di grup aplikasi chat.
Hari ini mungkin ada informasi tentang unjuk rasa, disusul informasi harga bahan pokok naik. Belum selesai kasus keracunan makanan atau perseteruan pasangan artis, sudah muncul lagi berita tentang bencana.
Di satu sisi, kita turut berempati terhadap orang-orang yang mengalami musibah. Di sisi lain, kita juga bisa rentan kelelahan mental karena intensnya arus kabar buruk.
Situasi ini jadi menimbulkan pertanyaan, seberapa besar kapasitas emosional manusia dalam menghadapi terpaan kabar negatif?
Arus deras berita, masalah manusia modern
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi membuat manusia jadi mudah terhubung satu sama lain. Kabar terbaru bisa langsung didapat dengan usapan di ponsel pintar. Namun, ini juga yang jadi masalah manusia modern.
"Baru bangun, nih. Kita belum siap secara emosi dan kesadaran, kita sudah langsung dibanjiri oleh berita-berita negatif. Nah, itulah yang sebenarnya membuat kita jadi overwhelmed," ujar magister psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Putra Wiramuda, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).
Putra mengatakan, manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan dalam memproses kabar negatif. Padahal, sejak zaman primitif, otak manusia hanya didesain menghadapi satu masalah di satu waktu.
Merunut lagi ke masa lampau, selama ratusan ribu tahun, otak manusia purba sudah terbiasa hidup di iklim primitif. Pada periode tersebut, kabar buruk cenderung minim. Misalnya, bertemu dengan binatang buas hanya sesekali saja.
Namun, manusia modern yang sejak 1990-an mulai mengenal internet dan pakai media sosial sekitar 20 tahun terakhir, setiap harinya dibanjiri oleh banyak berita, baik itu negatif maupun positif.
Hal ini membuat porsi berita buruk yang diterima setiap harinya melebihi kapasitas psikologis yang otak bisa cerna.
"Apalagi ada kecenderungan manusia itu memang jauh lebih mudah mengingat berita-berita yang negatif, yang namanya bias negativitas. Nah, itulah yang membuat kita justru malah jadi lebih mudah stres, lebih mudah terpantik emosinya," tutur praktisi mindfulness ini.
Tanda-tanda mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk
Seseorang sering kali tidak sadar atau mindful sudah mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk.
Putra membagikan setidaknya tiga tanda seseorang mengalami kelelahan tersebut yang bisa dijadikan deteksi dini.
"Sebaiknya memang kita butuh untuk lebih mindful lagi, ya, untuk merawat diri kita dulu misalnya, sebelum bertindak berlebihan," ucap praktisi di Myndfulact, Menjadi Manusia, hingga Ikigai Consulting ini.
1. Lebih mudah emosional
Tanda pertama, yakni jadi lebih mudah emosional, seperti mudah marah, sedih, hingga cemas. Bisa juga terus-menerus merasa lelah, meski tak banyak aktivitas yang dilakukan.
"Kadang-kadang kalau kita scrolling, tubuh kita kan diam sebenarnya, enggak ngapa-ngapain, tapi pikiran kita kan ke mana-mana. Nah, pikiran yang ke mana-mana itu juga draining energi," kata Putra.
2. Merasa tak berdaya dan pasrah
Ia melihat ada satu fenomena yang muncul di media sosial, yakni orang mulai menormalisasi berita negatif. Banyak yang berpendapat, hidup di negeri 'Konoha' terasa lebih normal membaca berita negatif ketimbang positif. Bahkan, ada yang kaget jika melihat berita positif.
Putra menganggapnya sebagai alarm bahaya. Ada kepasrahan di balik sikap-sikap tersebut, sehingga tak ada lagi perjuangan dan keberdayaan untuk menghadapi tantangan hidup.
Baca halaman selanjutnya...
Tanda Lain Kelelahan Akibat Berita Buruk dan Cara Mengelolanya
Ilustrasi. Kebanjiran berita buruk bisa membuat kita alami kelelahan mental. Namun berita buruk tak bisa dihindari. Ini cara mengelolanya dengan tepat. (iStockphoto)
3. Sulit berhenti dan memengaruhi kesehatan fisik
Tanda ketiga, seseorang jadi sulit berhenti untuk doom scrolling. Di satu sisi merasa tak nyaman dengan kabar buruk, tetapi takut pula ketinggalan informasi terkini.
"Kalau terus-menerus terjadi, akhirnya tubuh kita juga jadi ikut terkena dampak. Stres yang berkelanjutan tentu akan bikin asam lambung naik, kita jadi sensitif, lebih mudah terkena GERD gitu, ya," tutur Putra.
Selain gangguan fisik, produktivitas juga bisa menurun dan merusak relasi dengan orang terdekat karena pengaruh emosi negatif akibat paparan berita buruk.
Terkait efek paparan berita buruk terhadap kesehatan fisik, sudah terbukti pula dalam sejumlah penelitian. Salah satunya, studi Bryan McLaughlin et al. di jurnal Health Communication (2024).
Para peneliti membuktikan ada respons fisiologis dari orang yang mengonsumsi berita buruk atau (problematic news consumption/PNC). Tubuh bereaksi sebelum pikiran memutuskan apakah ancaman tersebut relevan.
Hasil studi menunjukkan, 17 persen partisipan memiliki tingkat PNC yang parah. Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya melaporkan merasa tidak sehat yang cukup parah. Hanya 6 persen yang menyatakan baik-baik saja.
Bukan menghindari berita buruk, ini yang perlu dilakukan
Bias negativitas menunjukkan, manusia cenderung fokus ke berita buruk, terus mencari sesuatu yang mengancam. Akibatnya, emosi jadi tidak stabil, stres, kecewa, hingga lelah mental dan fisik. Upaya untuk mencari terus inilah yang membuat seseorang terjebak doom scrolling.
"Yang pada akhirnya, jangan-jangan bisa membuat secondary traumatic stress," tutur Putra.
Berita buruk tak perlu langsung dihindari. Alih-alih langsung menghindari, Putra mengajak kita untuk terlebih dahulu mengenal batasan diri.
Ketika tahu seberapa besar kapasitas kita dalam menerima kabar buruk, kita tahu kapan harus berhenti mengumpulkan informasi. Kemudian, lihat permasalahan secara utuh dari informasi yang terkumpul.
"Di satu sisi, memang kita butuh sadar, tahu apa sih, isu-isu sosial. Tapi di sisi lain, 'oke, informasinya begini cukup.' Pertanyaan selanjutnya, 'apa yang bisa saya lakukan untuk membantu meringankan mereka?'," tutur penulis buku Di Sini dan Saat Ini.