Anak Usia 3 Tahun Belum Sekolah, Apa Saja yang Perlu Dipelajari?

CNN Indonesia
Minggu, 18 Okt 2026 04:04 WIB
ilustrasi anak belajar
Ilustrasi. Anak usia tiga tahun bisa belajar banyak hal meski dia belum sekolah. (Foto: iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak usia 3 tahun mulai bisa dikenalkan dengan huruf, angka, dan berbagai kegiatan belajar. Sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak ke playgroup, sementara yang lain memilih mendampingi tumbuh kembang anak di rumah.

Pilihan tersebut kerap menimbulkan pertanyaan, apakah anak perlu bersekolah sejak dini agar perkembangannya optimal, atau stimulasi di rumah sudah cukup?

Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak, Arifianto, mengatakan tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua keluarga. Keputusan menyekolahkan anak perlu mempertimbangkan tujuan orang tua, kondisi keluarga, serta kemampuan memberikan stimulasi di rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang tua tidak salah alasannya untuk menitipkan atau menyekolahkan anaknya pada usia 3 atau 4 tahun. Bahkan, kalau memaksakan diri untuk melakukan stimulasi itu sendiri, sementara waktunya tidak cukup, justru bisa kontraproduktif untuk perkembangan anak ke depannya," kata Arifianto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/10).

Sebaliknya, orang tua yang memiliki cukup waktu dan mampu memberikan stimulasi di rumah juga tidak keliru jika memilih menunda sekolah.

"Kalau orang tuanya di sisi lain misalnya memiliki manajemen waktu yang baik, mampu untuk membuat stimulasi dan merasa percaya diri, 'Saya sepertinya mampu untuk menjaga anak saya sampai minimal usia TK, bahkan usia SD,' nah itu juga adalah satu hal yang tidak salah juga," lanjutnya.

Arifianto menjelaskan, keputusan menyekolahkan anak sejak dini tidak selalu berkaitan dengan keinginan agar anak segera belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Keterbatasan waktu untuk mendampingi anak di rumah juga bisa menjadi pertimbangan.

"Orang tua sekarang ini banyak yang harus bekerja keduanya dan harus menitipkan anaknya ke orang lain, entah itu di daycare atau mungkin bahkan di playgroup. Nah, bisa jadi orang tua menyekolahkan anak lebih dini bukan untuk segera belajar calistung, tapi karena mereka tidak memiliki kemampuan secara waktu untuk memberikan stimulasi yang terbaik bagi anaknya," jelasnya.

Karena itu, orang tua perlu menyesuaikan keputusan dengan kondisi masing-masing keluarga, termasuk motivasi menyekolahkan anak dan kesiapan memberikan stimulasi.

"Jadi harus kembali ke kondisi individu setiap pasangan orang tua. Apa motivasi dan tujuan mereka menyekolahkan anaknya sejak dini? Karena tidak ada jawaban yang sama untuk semuanya, masing-masing punya alasan sendiri," kata Arifianto.

Anak usia 3 tahun harus belajar apa?

Anak yang belum masuk sekolah tetap membutuhkan stimulasi untuk mendukung perkembangan motorik, bahasa, serta kemampuan sosial dan emosional. Stimulasi tersebut tidak harus berupa pelajaran formal, seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Ada sejumlah kegiatan sederhana yang bisa dilakukan bersama anak usia 3-4 tahun di rumah untuk mendukung perkembangannya. Berikut beberapa kegiatannya:

1. Melakukan aktivitas fisik

Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bergerak aktif setiap hari. Kegiatan fisik tidak harus dilakukan di luar rumah karena anak juga bisa bermain dan bergerak di dalam ruangan. Arifianto menjelaskan, anak bisa melakukan permainan bebas sesuai minatnya. Aktivitas tersebut dapat dilakukan di dalam maupun di luar rumah.

"Kalau bermain itu ada permainan bebas, itu boleh. Secara fisik, tidak harus di outdoor, di indoor pun boleh. Itu kurang lebih sekitar tiga jam sehari, dengan intensitas sedang yang membuat berkeringat," jelasnya.

2. Bermain puzzle dan playdough

Selain motorik kasar, anak juga perlu melatih motorik halus melalui kegiatan yang melibatkan tangan dan jari-jari. Orang tua bisa mengajak anak menyusun puzzle, bermain playdough, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya.

Kegiatan ini dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih koordinasi gerakan dan keterampilan tangannya. Anak juga bisa diajak mencoba gerakan tubuh yang sesuai dengan kemampuannya, seperti melompat dengan satu kaki, dengan tetap memperhatikan keamanan saat bermain.

3. Membaca cerita dan bermain peran

Kemampuan bahasa dan komunikasi dapat dikembangkan melalui percakapan sehari-hari. Orang tua bisa membacakan buku cerita, mendongeng, atau mengajak anak bermain peran menggunakan boneka dan tokoh mainan.

Kegiatan tersebut tidak harus menggunakan alat bantu khusus. Percakapan langsung antara anak dan orang tua atau pengasuh juga dapat menjadi sarana stimulasi bahasa.

"Komunikasi itu bisa tanpa media, seperti antara anak dan orang lain, orang tuanya atau caregiver lainnya. Bisa juga melibatkan media, misalnya menggunakan buku cerita, mendongengkan, atau bermain peran (role play)," ujarnya.

4. Membiasakan anak mandiri

Anak usia 3-4 tahun juga bisa mulai dibiasakan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya. Arifianto mengatakan, anak pada usia tersebut dapat mulai belajar mandi, berpakaian, dan menjalankan rutinitas sebelum tidur dengan lebih teratur.

"Anak usia 3-4 tahun itu sudah harus mandiri sebenarnya, diajari atau bahkan sudah mempraktikkan untuk bisa mandi dengan cukup baik, kemudian berpakaian dengan baik, rutinitas sebelum tidur juga baik," kata Arifianto.

Meski demikian, orang tua tetap perlu mendampingi anak saat belajar melakukan kegiatan tersebut. Tujuannya bukan menuntut anak langsung mampu melakukan semuanya sendiri, melainkan membangun kebiasaan secara bertahap.

5. Belajar menunggu giliran dan mengikuti instruksi

Kemampuan sosial dan emosional juga perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Anak dapat mulai dibiasakan menunggu giliran, bersabar, serta mengikuti instruksi sederhana.

Misalnya, orang tua dapat mengajak anak bermain secara bergantian, mengajarinya mengantre, atau membiasakan anak menyelesaikan satu kegiatan sebelum beralih ke kegiatan berikutnya. Menurut Arifianto, anak usia 3-4 tahun mulai bisa memahami beberapa instruksi sekaligus dan belajar menunggu giliran.

"Anak usia 3-4 tahun itu sudah bisa diminta untuk memahami beberapa instruksi dalam satu waktu dan juga bisa diminta untuk menunggu giliran, jadi seperti mengantre," pungkasnya.

Pembiasaan tersebut dapat membantu anak mengenali aturan, melatih kesabaran, dan belajar menghargai orang lain. Dengan demikian, stimulasi tumbuh kembang anak usia 3-4 tahun tidak harus dilakukan melalui pembelajaran formal di sekolah.

Orang tua juga bisa mendukung perkembangan anak melalui aktivitas bermain, komunikasi, dan rutinitas sehari-hari di rumah, dengan menyesuaikannya pada kebutuhan serta kemampuan anak.

(anm/tis)
placeholder