Kapan Anak Sebaiknya Mulai Les Renang? Ini Panduannya

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 04:00 WIB
Ilustrasi anak berenang
Ilustrasi. Ada panduan agar orang tua tak kebingungan kapan sebaiknya anak les renang. (iStock/Edwin Tan)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Melihat anak bermain air atau mengikuti les renang sejak kecil bisa menjadi pengalaman menyenangkan bagi orang tua. Selain menjadi aktivitas fisik yang menyenangkan, berenang juga dapat membantu anak mempelajari keterampilan keselamatan saat berada di dalam atau di sekitar air.

Tak sedikit orang tua yang mulai mengenalkan kolam renang kepada bayi berusia beberapa bulan. Namun, apakah semakin dini anak belajar berenang, semakin baik pula kemampuannya menjaga diri di air?

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pelajaran renang dimulai setelah anak berusia satu tahun. Meski demikian, kesiapan setiap anak berbeda dan perlu disesuaikan dengan perkembangan fisik, kemampuan kognitif, kematangan emosional, serta kondisi kesehatannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal yang perlu diingat, mengikuti les renang tidak serta-merta membuat anak aman berada di air tanpa pengawasan orang dewasa.

Usia berapa anak sebaiknya mulai les renang?

Dalam panduan Prevention of Drowning, AAP merekomendasikan pelajaran renang dimulai setelah anak berusia satu tahun. Namun, orang tua tetap perlu mempertimbangkan kesiapan anak, bukan hanya berpatokan pada usia.

Pelajaran renang dapat membantu anak mempelajari keterampilan di air secara bertahap. Meski begitu, kemampuan berenang membutuhkan koordinasi gerak dan kematangan motorik yang berkembang seiring bertambahnya usia.

AAP menjelaskan, keterampilan berenang dan bertahan hidup di air umumnya lebih mudah dikuasai ketika kemampuan motorik anak semakin matang, termasuk sekitar usia lima hingga enam tahun. Bukan berarti anak harus menunggu sampai usia tersebut untuk mulai belajar berenang. Proses pembelajaran tetap bisa dimulai lebih awal dengan menyesuaikan materi dan metode pengajaran dengan tahap perkembangannya.

AAP juga membedakan pengenalan air untuk bayi dengan pelajaran renang yang bertujuan membantu mencegah tenggelam. Pada bayi berusia di bawah satu tahun, aktivitas di air lebih tepat diarahkan untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun kedekatan antara bayi dan orang tua.

Pada usia tersebut, bayi juga belum memiliki koordinasi motorik yang memadai untuk melakukan gerakan berenang yang diperlukan agar dapat menyelamatkan diri. Karena itu, pengenalan air tidak boleh dianggap sebagai jaminan bahwa bayi mampu bertahan ketika terjatuh atau tenggelam.

Hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum anak berenang

Selain mempertimbangkan usia dan kesiapan anak, orang tua perlu memperhatikan sejumlah hal sebelum mengajak anak berenang atau mendaftarkannya ke kelas renang.

1. Pastikan anak selalu dalam pengawasan

Pengawasan merupakan aspek paling penting ketika anak berada di dalam atau di sekitar kolam renang. Orang dewasa perlu memberikan perhatian penuh dan tidak terdistraksi oleh ponsel maupun aktivitas lainnya.

Untuk bayi, balita, dan anak yang belum mahir berenang, orang dewasa harus berada dalam jangkauan tangan agar dapat segera memberikan bantuan jika diperlukan. Pengawasan tetap diperlukan meskipun anak sudah mengikuti les renang atau menggunakan alat bantu apung. Kemampuan berenang tidak menghilangkan risiko tenggelam.

2. Pilih kelas dan instruktur yang tepat

Orang tua sebaiknya memilih kelas dengan instruktur yang kompeten dan prosedur keselamatan yang jelas. Materi pelajaran idealnya tidak hanya berfokus pada gerakan tangan dan kaki, tetapi juga mengenalkan keselamatan di air.

Sesuaikan kelas dengan usia dan kemampuan anak. Untuk bayi, orang tua dapat memilih program pengenalan air yang melibatkan pendampingan orang tua dan dirancang sesuai dengan kebutuhan serta tahap perkembangan bayi. Orang tua juga perlu memastikan jumlah peserta dalam kelas memungkinkan instruktur memberikan pengawasan yang memadai.

3. Perhatikan suhu air dan kondisi tubuh anak

Anak bisa mengalami kedinginan atau kelelahan jika terlalu lama berada di air. Pada bayi, suhu air perlu diperhatikan karena tubuhnya lebih rentan kehilangan panas.

Hentikan aktivitas jika anak menggigil, terlihat sangat lelah, mengalami sesak napas, atau menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman. Pastikan durasi berenang sesuai dengan usia, kondisi tubuh, dan respons anak selama berada di air. Jangan memaksakan anak untuk melanjutkan pelajaran jika ia merasa takut, kelelahan, atau tidak nyaman.

4. Pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup

Bermain air dan berenang tetap membutuhkan energi. Karena itu, anak perlu mendapatkan asupan cairan yang cukup sebelum dan setelah berenang, terutama jika aktivitas berlangsung cukup lama.

Orang tua juga perlu mengingatkan anak agar tidak sengaja menelan air kolam. Air kolam renang bukan untuk diminum dan dapat mengandung kuman meskipun telah melalui proses pengolahan.

5. Perhatikan waktu makan

Anak tidak harus menunggu tepat 30 menit setelah makan untuk berenang. Namun, jika baru saja mengonsumsi makanan dalam porsi besar, anak mungkin merasa begah atau tidak nyaman ketika langsung bermain air.

Karena itu, perhatikan kondisi anak sebelum berenang. Jika ia merasa mual, mengalami kram perut, atau merasa tidak nyaman, sebaiknya beristirahat terlebih dahulu sebelum kembali bermain air.

(anm/tis)