Nyamuk selama ini dikenal sebagai serangga pembawa penyakit. Namun, para ilmuwan kini mencoba memanfaatkan nyamuk untuk mendeteksi virus yang beredar di suatu wilayah, bahkan sebelum kasus penyakit teridentifikasi pada manusia.
Caranya terbilang unik, yakni dengan membuat toilet khusus nyamuk untuk mengumpulkan kotorannya. Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk mencari jejak genetik virus dan organisme lain yang ada di lingkungan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Microbiology Spectrum ini dilakukan oleh tim dari Rutgers University di New Brunswick, Amerika Serikat. Para peneliti mengembangkan perangkat khusus untuk mengumpulkan kotoran nyamuk dan menganalisis materi genetik yang terkandung di dalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana toilet nyamuk bekerja?
Perangkat ini dibuat menggunakan teknologi cetak tiga dimensi atau 3D printing. Bentuknya menyerupai corong yang dilapisi bahan penolak air. Lapisan tersebut membantu tetesan kotoran nyamuk mengalir menuju tabung penampung di bagian bawah.
Dalam eksperimen tersebut, peneliti mengumpulkan dua kelompok nyamuk liar dari genus Culex. Nyamuk-nyamuk itu ditempatkan dalam wadah di atas corong, kemudian diberi larutan gula. Kotoran yang dihasilkan selanjutnya dikumpulkan untuk diperiksa di laboratorium.
Saat mengonsumsi gula, nyamuk mengeluarkan sisa metabolisme yang dapat mengandung materi genetik virus maupun organisme lain. Materi genetik tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode pengurutan genom (genome sequencing) untuk mengidentifikasi organisme yang terdeteksi.
"Kami secara sederhana menyebutnya membangun toilet nyamuk," kata Price dalam pernyataan yang dikutip dari The Print.
Berpotensi menjadi sistem peringatan dini
Pemantauan virus melalui nyamuk dinilai penting karena serangga ini dapat menularkan berbagai penyakit kepada manusia dan hewan. Dalam penelitian tersebut, peneliti menyebut hampir 30 persen penyakit menular yang memengaruhi manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk serta serangga pengisap darah lainnya. Mereka juga menyoroti meningkatnya jumlah wabah penyakit yang berkaitan dengan kelompok serangga tersebut.
Dengan mendeteksi patogen pada populasi nyamuk lebih awal, petugas kesehatan berpotensi memperoleh peringatan sebelum kasus penyakit ditemukan pada manusia. Informasi ini dapat membantu menentukan langkah pemantauan dan penanganan yang diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit.
Meski demikian, perangkat toilet nyamuk masih berada pada tahap awal pengembangan. Peneliti masih berupaya mengembangkan perangkap yang dapat digunakan langsung di lapangan, tidak hanya dalam kondisi laboratorium.
Price membayangkan perangkat tersebut nantinya dapat ditempatkan di kawasan hutan dan secara otomatis mengirimkan data yang terkumpul kepada peneliti.
Jika pengembangan ini berhasil, kotoran nyamuk tidak hanya menjadi sisa metabolisme, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi untuk memantau virus dan organisme lain di lingkungan. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung sistem pengawasan penyakit dan membantu mendeteksi potensi wabah lebih dini.
(anm/tis)
