Nasi di Indonesia, Bubur di Thailand, Begini Fast Food Beradaptasi
Bagi sebagian orang Indonesia, makan di restoran cepat saji rasanya belum lengkap tanpa nasi. Ayam goreng, nasi, dan sambal pun menjadi kombinasi yang akrab di berbagai gerai. Padahal, restoran cepat saji global identik dengan burger dan kentang goreng.
Di negara lain, menunya bisa berbeda. Ada yang menawarkan bubur nasi, pilihan vegetarian, hingga makanan yang disesuaikan dengan pantangan tertentu.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar soal rasa. Kebiasaan makan dan budaya masyarakat turut memengaruhi pilihan menu yang tersedia.
Fenomena ini dikenal sebagai glocalization atau glokalisasi, yakni ketika merek global menyesuaikan produk dengan kebiasaan masyarakat setempat. Lantas, bagaimana budaya lokal memengaruhi menu restoran cepat saji global?
Dari nasi dan ayam hingga menu vegetarian
Melansir jurnal Globalization and Health, salah satu contoh glokalisasi bisa dilihat dari menu restoran cepat saji di berbagai negara. Di Indonesia, nasi dan ayam goreng menjadi pilihan yang akrab bagi banyak konsumen. Sementara itu, di Thailand menawarkan bubur nasi dengan ayam. Di India, tersedia pilihan vegetarian untuk menjangkau konsumen dengan preferensi dan pantangan makanan yang berbeda.
Perbedaan menu ini memperlihatkan bagaimana restoran cepat saji menyesuaikan hidangan dengan kebiasaan makan masyarakat setempat. Konsumen tetap bisa menikmati merek yang sama, tetapi dengan pilihan yang terasa lebih akrab di lidah.
Agama dan budaya ikut menentukan menu
Selain selera, agama dan budaya juga bisa memengaruhi pilihan makanan seseorang.
India menjadi salah satu contoh menarik karena masyarakatnya memiliki beragam tradisi dan pantangan makanan. Sebagian orang menghindari daging tertentu, sementara yang lain memilih makanan vegetarian berdasarkan keyakinan atau preferensi pribadi.
Journal of Asian and African Studies mengulas berbagai bentuk adaptasi, mulai dari suasana restoran hingga strategi periklanan dan penggunaan media sosial. Peneliti juga membahas nilai serta pantangan makanan yang berkaitan dengan kepercayaan Jain.
Memahami kebiasaan makan masyarakat bukan cuma soal mengetahui makanan favorit mereka. Nilai dan keyakinan yang dipegang konsumen juga bisa memengaruhi pilihan makanan.
Di Indonesia, misalnya, informasi mengenai kehalalan makanan menjadi pertimbangan penting bagi konsumen Muslim.
Itulah sebabnya restoran yang sama bisa menawarkan pilihan makanan berbeda di negara yang berbeda pula. Sebab, meski mereknya mendunia, selera dan kebiasaan makan masyarakat tetap punya cerita masing-masing.
(anm/asr)