Ulos Sianipar, Kain Tenun Batak yang Tembus ke Malaysia hingga Jerman
Bangunan kayu coklat tua dengan nuansa kain Ulos berdiri tegak di kawasan A.R Hakim Gang Pendidikan Kota Medan pada awal Oktober lalu. Ada tiga patung di antaranya berbentuk perempuan dan pria yang mengenakan kain khas Batak tersebut. Di suatu siang yang terik, saya mengunjungi Galeri Ulos Sianipar dengan puluhan wartawan lain atas undangan Bank Indonesia (BI).
Pelbagai motif Ulos terlihat dari jarak beberapa meter saat menginjakkan kaki di teras galeri itu.
Galeri Ulos Sianipar berdiri sejak 1992 oleh sang pemilik, Robert Sianipar. Awalnya dia hanya mempekerjakan belasan pekerja, namun hari ini sudah mencapai ratusan orang. Galeri itu juga memberdayakan 300 lebih perajin lokal yang menenun Ulos secara tradisional.
"Ulos ini awalnya dari Opung dahulu, dan kini masuk generasi ketiga," kata Nelly Simangungsong, salah seorang pegawai Galeri Ulos Sianipar. "Ini adalah upaya untuk mengangkat warisan budaya Batak."
Ulos adalah kain tenun khas Batak yang dikembangkan secara turun-temurun hingga hari ini. Dalam keterangan resminya, kain itu didominasi oleh warna merah, hitam dan putih berhiaskan tenun dari benang berwarna emas atau perak. Kain ini juga dihasilkan dari alat tenun bukan mesin.
Nelly menyatakan sang pemilik ingin memperbesar warisan budaya tersebut secara bersama-sama.
Oleh karena itu, kata dia, Sianipar terus menggandeng perajin di pelbagai wilayah di Sumatra Utara untuk memperluas jangkauan. Tak hanya fesyen, namun juga oleh-oleh macam makanan hingga suvenir pun dijual di galeri tersebut. Kami pun mendapatkan penjelasan pelbagai macam kain Ulos. Dari harga Rp200 ribu hingga Rp7 juta.
Yang paling mahal, tergantung dengan jenis kain hingga penenunan. Rekan Nelly di dalam galeri pun tak bosan-bosannya secara bergantian memperlihatkan pelbagai jenis motif dan warna kain Ulos. Pembeli yang lain pun berseliweran saat kami mendapatkan penjelasan soal kain khas tersebut.
Nelly menuturkan selain penjualan domestik, kain Ulos itu juga diekspor ke pelbagai negara: Malaysia, Singapura, Australia hingga Amerika Serikat dan Jerman. Perempuan itu memaparkan pasar ekspor berkontribusi sekitar 40 persen dari total penjualan.
"Omzet per bulan total mencapai Rp1,5 miliar," katanya.
BI Membuka Akses Pasar
Bagaimana cerita di balik Galeri Ulos Sianipar menembus ekspor?
Dani Sutanta, pendamping UMKM BI Medan, mengatakan pihaknya melakukan pendampingan dengan memperkenalkan pasar yang lebih luas. Galeri Ulos Sianipar sendiri rajin mengikuti gelaran acara Trade Expo di Jakarta untuk jangkauan pembeli lebih besar.
"BI memberikan akses informasi pemasaran, dikenalkan dengan pembeli," kata Dani.
Kementerian Perindustrian mencatat pengembangan Ulos setidaknya tercermin dari kinerja ekspor tenun ikat Indonesia.
Pada semester I /2026, nilai ekspor tenun ikat mencapai US$34 ribu atau meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13 ribu. Sementara dari sisi produksi, demikian Antara, BPS mencatat terdapat 43 sentra tenun Ulos di Sumatra Utara pada medio 2020, antara lain di Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun.
Tak hanya peningkatan kapasitas, BI juga mendampingi mitra UMKM untuk meningkatkan keahlian untuk menenun kain Ulos.
Dani menuturkan pihaknya sudah menggandeng sejumlah sekolah untuk mengajarkan kemampuan tersebut.
Selain peningkatan kapasitas, bank sentral juga memberikan pelatihan berupa penguatan mutu produk, akses informasi terhadap permodalan hingga pasar luar negeri. Hasilnya, Galeri Ulos Sianipar pun mendapatkan kehormatan untuk merancang busana untuk orang nomor satu di republik ini.
"Ulos Sianipar mempersiapkan busana adat dua presiden," kata Nelly dengan bangga. "Pak SBY dan Pak Jokowi."
Siang itu, lebih dari 1 jam saya dan wartawan lainnya mendapatkan penjelasan dari Nelly serta para pegawai lainnya di Galeri Ulos Sianipar. Tak lupa saya membeli kain bahan Ulos warna hijau botol yang dijahit di galeri tersebut untuk dijadikan kemeja. Saya pun pulang dengan hati penuh.
Dari bangunan coklat tua di Jalan A.R Hakim Gang Pendidikan Kota Medan, ternyata terbentang pula jalan cerita untuk menembus pasar dunia.
(asa)