Perempuan Lombok Sulap Alat Tenun Jadi Sumber Energi Ramah Lingkungan

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 19:40 WIB
Keberadaan Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara menjadi salah satu pilihan destinasi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin membeli cenderamata berupa kain tenun yang diproduksi warga setempat sekaligus belajar tentang pembuatan kain khas L
Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara jadi salah satu destinasi wisata saat pelancong bisa langsung melihat pembuatan kain khas Lombok. (CNN Indonesia/Muhammad Hirzan)
Lombok, CNN Indonesia --

Budaya menenun di Desa Sukarara, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak hanya menjadi upaya melestarikan warisan budaya lokal. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini juga berkembang melalui inovasi teknologi ramah lingkungan yang mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan.

Salah satu upaya tersebut terlihat di Galeri Mina Tenun, destinasi yang menawarkan kain tenun produksi warga setempat sekaligus memberikan kesempatan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengenal proses pembuatan kain khas Lombok.

Sebelum memiliki galeri, Kelompok Mina Tenun Lestari menghadapi sejumlah kendala dalam proses produksi. Para penenun masih bekerja secara mandiri di rumah masing-masing dengan fasilitas yang terbatas dan belum tertata dengan baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, menenun sebagai sumber mata pencaharian keluarga juga dihadapkan pada persoalan nilai jual produk, keterbatasan modal, serta ketergantungan pada pengepul.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan dengan menjawab kebutuhan nyata sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal.

"Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan. Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih," ujar Dian.

Kini, Kelompok Mina Tenun Lestari telah berkembang menjadi 22 anggota yang didominasi perempuan usia produktif. Area kerja mereka pun bertransformasi menjadi galeri sekaligus sentra edukasi wisata melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL).

Melalui program Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga mendukung para mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman agar dapat melanjutkan aktivitas ekonomi. Dukungan tersebut mencakup akses terhadap bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan untuk menunjang proses produksi.

Upaya ini turut berdampak pada pendapatan para penenun. Sebelum program berjalan, mereka hanya menerima upah sekitar Rp25 ribu per lembar kain. Kini, melalui Galeri Mina Tenun, upah yang diterima dapat mencapai minimal sekitar Rp750 ribu per lembar setelah memperhitungkan modal kain.

Selain mendorong peningkatan nilai ekonomi produk, program Mina Tenun menghadirkan inovasi berupa alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi untuk menghasilkan energi listrik dari gerakan mekanis selama proses menenun.

Energi listrik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi. Inovasi tersebut juga didukung pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program TJSL Pertamina Patra Niaga.

Dengan pendekatan ini, aktivitas menenun tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi perempuan di Desa Sukarara, tetapi juga terhubung dengan pemanfaatan energi terbarukan dan dukungan terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Dari sisi pemasaran, Pertamina turut memfasilitasi produk tenun lokal agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui berbagai bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ajang bertaraf internasional. Salah satunya adalah Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Pertamina Mandalika.

Produk yang dihasilkan pun semakin beragam. Tak hanya berupa kain sarung, Galeri Mina Tenun kini menawarkan produk turunan seperti pakaian, taplak meja, dan hiasan dinding. Sejumlah produk juga memanfaatkan bahan dari serat nanas dan serat pisang sebagai alternatif material untuk menghasilkan karya bernilai tambah.

Melalui perpaduan pelestarian budaya, inovasi energi ramah lingkungan, dan pengembangan produk, Mina Tenun menjadi salah satu contoh upaya mengembangkan tradisi lokal agar tetap relevan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perempuan di Lombok.

(mhi/tis)
placeholder