HARI OSTEOPOROSIS SEDUNIA

Perhatikan Sejak Dini, Osteoporosis pada Anak Bisa Terjadi

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 05:59 WIB
Ilustrasi. Tak hanya lansia, osteoporosis pada anak juga bisa terjadi. Ketahui seluk-beluknya dan ciri-ciri patah tulang pada anak. (istockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak yang menganggap osteoporosis hanya dialami ketika seseorang sudah berusia lanjut. Padahal, osteoporosis pada anak juga dapat terjadi.

Kondisi ini perlu diperhatikan karena anak belum tentu mampu menjelaskan keluhan yang dirasakannya, terutama ketika terjadi patah tulang. Jadi, orang tua perlu memahami faktor risiko sekaligus mengenali ciri-ciri patah tulang agar anak mendapatkan pemeriksaan tepat waktu.

Pesan tersebut sejalan dengan tema Hari Osteoporosis Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 Oktober 2026, yaitu "Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life".

Mengutip laman World Osteoporosis Day, tema tahun ini menekankan pentingnya membangun, melindungi, dan memperkuat tulang sepanjang hidup, dimulai sejak masa kanak-kanak.

Osteoporosis pada anak

Osteoporosis pada anak juga bisa terjadi. Salah satunya ditandai riwayat patah tulang yang signifikan. (istockphoto/Iuliia Zavalishina)

Seperti yang ditulis Dokter Anak Konsultan Endokrinologi, Karina Sugih Arto, di laman Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), anak disebut mengalami osteoporosis bila terdapat riwayat fraktur yang signifikan secara klinis disertai nilai densitas mineral tulang dengan skor-z kurang atau sama dengan -2.

Riwayat fraktur yang dimaksud, yakni dua atau lebih patah tulang panjang sebelum usia 10 tahun, atau tiga atau lebih patah tulang panjang pada usia 10 hingga 19 tahun.

Selain itu, adanya satu atau lebih fraktur kompresi tulang belakang yang terjadi tanpa trauma berat atau tanpa adanya penyakit lokal penyebab, juga tergolong riwayat fraktur, meski nilai skor-z masih dalam batas normal.

Osteoporosis pada anak sendiri dibagi menjadi primer dan sekunder. Osteoporosis primer berkaitan dengan kelainan genetik penyebab kerapuhan tulang, seperti osteogenesis imperfecta (OI), sindrom Ehlers-Danlos, sindrom Marfan, dan sebagainya.

Selain itu, ada osteoporosis juvenil idiopatik yang ditandai oleh nyeri tulang, deformitas, fraktur, dan rendahnya densitas mineral tulang tanpa penyebab yang jelas.

Adapun osteoporosis sekunder terjadi akibat penyakit kronis atau terapi yang memengaruhi pembentukan, resorpsi, maupun mineralisasi tulang. Mengutip Royal Osteoporosis Society, berikut ini beberapa kondisi yang berkontribusi terhadap osteoporosis pada anak:

Perlu dicatat, tak semua anak dengan kondisi tersebut mengalami osteoporosis. Namun, riwayat penyakit, obat-obatan, dan patah tulang perlu dibicarakan dengan dokter untuk menilai risiko serta menentukan kebutuhan pemeriksaan.

Ciri-ciri patah tulang pada anak

Mengenali patah tulang tidak selalu mudah, terutama pada anak yang belum mampu menjelaskan rasa sakit. Berikut tanda-tandanya yang perlu diperhatikan:

1. Bengkak

Mengutip laman Healthy Children, bagian tubuh yang mengalami fraktur biasanya terasa nyeri dan membengkak.

Anak mungkin enggan menggerakkan anggota tubuh yang cedera. Namun, jika anak mampu menggerakkan bagian tubuhnya, tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan patah tulang tersebut.

2. Nyeri pada titik tertentu

Rasa nyeri yang terpusat pada satu lokasi merupakan ciri-ciri patah tulang. Jangan berulang kali menekan bagian tersebut untuk memastikan cedera. Segera hubungi dokter jika mencurigai patah tulang.

3. Ada perubahan warna kulit

Memar kebiruan atau keunguan dapat muncul akibat kerusakan pembuluh darah di sekitar cedera. Meski demikian, memar saja tidak cukup untuk memastikan adanya fraktur.

4. Bentuk anggota tubuh berubah

Lengan atau tungkai yang tampak bengkok, lebih pendek, atau membentuk sudut tidak wajar memerlukan pertolongan segera. Jika tulang menembus kulit, bawa anak ke instalasi gawat darurat dan jangan mencoba meluruskannya sendiri.

5. Bunyi retak saat cedera

Bunyi retak atau letupan yang disertai nyeri hebat, bengkak, atau perubahan bentuk anggota tubuh dapat menandakan patah tulang. Namun, tidak semua fraktur menimbulkan bunyi, dan bunyi sendi tidak selalu berarti tulang patah.

Dalam momentum Hari Osteoporosis Sedunia, orang tua dapat mendukung kesehatan tulang melalui makanan bergizi dengan kecukupan kalsium dan protein, aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta kebiasaan hidup sehat.

Anak dengan osteoporosis atau riwayat fraktur membutuhkan arahan dokter mengenai aktivitas dan penanganan yang aman. Kenali ciri-ciri patah tulang sejak dini, tetapi ingat bahwa diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan medis.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK