Tradisi China Kuno, Orang Tua Panggil Anak dengan Sebutan 'Anjing'

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 00:00 WIB
Dulu, keluarga China percaya, panggilan 'anjing' atau 'babi' untuk anak memberikan keberkahan.
Ilustrasi anjing. Dulu, keluarga China percaya, panggilan 'anjing' atau 'babi' untuk anak memberikan keberkahan. Kini, praktik ini masih berlaku pada sebagian kecil masyarakat. (noragomez82/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi banyak orang, memberikan nama panggilan kasar seperti 'anjing' atau 'babi' kepada anak pasti dicap buruk. Tapi, hal yang sama tak berlaku di China.

Alih-alih buruk, beberapa keluarga China kuno justru percaya panggilan seperti 'anjing' atau 'babi' untuk anak justru bisa melindungi si buah hati. Praktik ini telah dikenal sejak lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para orang tua percaya, semakin sederhana nama panggilan yang diberikan, maka semakin nama itu dapat membantu memastikan si kecil tumbuh sehat.

Melansir South China Morning Post, praktik ini muncul lantaran layanan kesehatan yang terbatas dan rata-rata umur masyarakat China yang pendek.

Akibatnya, banyak keluarga China memberi nama panggilan untuk anak mereka dengan nama hewan. Harapannya, mereka akan sehat dan tangguh seperti hewan yang diyakini memiliki vitalitas kuat.

Hal tersebut ditulis oleh seorang tokoh sastra besar China dari Dinasti Song Utara. Ouyang Xiu menulis beberapa nama panggilan yang sering digunakan di antaranya gou sheng (sisa makanan anjing), gou dan (anjing dan telur), gou shi (kotoran anjing), dan zhu wa (anak babi).

Beberapa orang tua juga menamai anak-anak mereka dengan nama benda-benda keras seperti batu, palu, besi, atau gembok. Kesemuanya sama, menyiratkan harapan orang tua agar kelak si kecil tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

Saat ini, hanya sedikit keluarga China yang masih melanjutkan praktik tersebut. Utamanya, mereka yang tinggal di kawasan pedesaan.

Jadi bahan ejekan

Seorang wanita bernama Zhang sempat viral di media sosial akibat praktik pemberian nama panggilan tersebut. Ia lahir pada dekade 1980-an dan diberi nama panggilan gou dan (anjing dan telur).

Suatu hari sang ibu pernah mengunjungi kampus tempatnya belajar. Sang ibu pun memanggilnya dengan 'gou dan'. Sontak, Zhang pun jadi bahan tertawaan.

"Betapa malunya saya saat itu. Tapi ibu saya sudah terbiasa memanggil saya dengan nama itu. Setelah itu, saya memintanya untuk tidak menggunakan nama itu di luar rumah," ujar Zhang.

Ia bercerita, nama panggilan 'gou dan' itu diberikan lantaran Zhang sempat hampir meninggal dunia lantaran sakit yang diderita saat usianya baru menginjak beberapa bulan.

Cerita Zhang pun mendapatkan banyak respons dari netizen. Beberapa di antaranya mendukung untuk melestarikan tradisi tersebut.

"Nama panggilan ini mengandung restu tulus dari orang tua. Saya pikir tradisi ini harus dilestarikan," ujar seorang netizen berkomentar.

Ada juga netizen yang bercerita soal pengalamannya dengan tradisi nama panggilan itu. Saking akrabnya dengan nama panggilan, ia mengaku tak tahu nama asli anggota keluarganya.

"Saya punya paman berusia 70-an yang dijuluki ye hu (pispot). Semua orang di keluarga memanggilnya begitu, dan saya bahkan tidak tahu nama aslinya," tulis dia.

(asr/asr)