Ketegangan atau pertengkaran di dalam kabin pesawat kerap menjadi mimpi buruk bagi keselamatan penerbangan. Seorang pramugari maskapai Ryanair, Naomi Rotolo, membeberkan batasan perilaku penumpang yang dapat memaksa kapten memutuskan pendaratan darurat.
Melansir wawancara bersama SlotsLV, Naomi menegaskan bahwa keputusan akhir untuk mengalihkan rute atau mendaratkan pesawat lebih awal tidak berada di tangan awak kabin, melainkan sepenuhnya wewenang kapten pilot.
"Kapten memiliki keputusan akhir. Awak kabin melaporkan apa yang terjadi, dan kapten yang menentukan apakah perlu meminta polisi menghadang pesawat saat mendarat. Kekerasan fisik, ancaman, atau apa pun yang membahayakan keselamatan penerbangan adalah situasi yang memicu hal tersebut," jelas Naomi, seperti dilansir Metro.co.uk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Naomi mengungkapkan bahwa pendaratan darurat hampir dipastikan terjadi apabila penumpang melakukan kekerasan terhadap awak kabin atau penumpang lain, menolak instruksi keselamatan, atau menciptakan situasi luar biasa yang tak lagi bisa dikendalikan oleh kru.
Apabila terjadi perkelahian fisik atau adu jotos di udara, langkah awal yang dilakukan awak kabin adalah memisahkan pihak-pihak yang bertikai dan meminta penumpang lain tetap duduk tenang di kursi masing-masing.
Kru penerbangan kemudian memindahkan posisi duduk penumpang terdampak, memberikan peringatan keras, serta menginformasikan kondisi darurat kepada purser dan kapten pilot.
"Kami memberikan peringatan yang jelas untuk berhenti. Jika perilaku tersebut berlanjut, polisi akan dipanggil untuk menunggu di bandara kedatangan. Kami juga mencatat seluruh kronologi dalam laporan resmi usai mendarat," tambah Naomi.
Demi menghadapi potensi kekerasan di kabin, seluruh awak kapal dibekali pelatihan manajemen konflik dan teknik de-eskalasi secara berkala setiap tahun.
Pendekatan utama yang digunakan kru adalah menjaga ketenangan diri, menggunakan nada bicara yang stabil, mendengarkan keluhan, serta memberikan instruksi secara tegas, namun sopan demi menetralkan situasi sebelum eskalasi kekerasan meluas.
(wiw)