Berkunjung ke Ecole Duperre, Kampus Mode Bergengsi Paris
Kota Mode Paris bertanggung jawab melahirkan sejumlah talenta dunia fashion. Sebagian dari mereka menempuh pendidikan formal salah satunya di sekolah seni dan desain École Duperré Paris. Kunjungan ke sekolah negeri ini membawa pengalaman menakjubkan baik dari segi fasilitas sekolah maupun pengalaman para mahasiswanya.
Beberapa waktu lalu JF3 Fashion Festival 2026 diramaikan desainer lulusan École Duperré Paris. Berkolaborasi dengan Pintu Incubator, tiga desainer yakni, Aurelien Voegeli, Maurine Willebien, dan Paul Vidal menunjukkan kepiawaian mereka mengolah ide dan material menjadi sebuah koleksi busana.
Usai menyaksikan peragaan busana bertajuk 'L'Entre-Deux: Interwoven Identities' ini, muncul tanya, seperti apa sekolah tempat mereka belajar sehingga mampu menghasilkan karya yang mengagumkan.
Akhirnya, datang juga kesempatan untuk berkunjung ke École Duperré Paris. Fasad bangunan sekolah mengingatkan akan bangunan lawas khas Eropa lengkap dengan jendela besar dan pintu kayu tinggi.
Berjumpa dengan Natacha Lallemand, Head of International Relations École Duperré, ia bercerita sekolah menempati bangunan ini pada sekitar 1970.
"Kami [sekolah] negeri. Hal ini berarti kami mendapat pembiayaan dari negara dan kami berada di bawah Kementerian Pendidikan dan kota Paris jadi bangunan ini milik kota dan semua guru," kata Lallemand saat ditemui di École Duperré Paris, Prancis beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan segala fasilitas sekolah dibiayai oleh Kementerian Pendidikan sehingga para mahasiswa tidak perlu membayar biaya pendidikan di sini.
Tak heran tiap tahun puluhan ribu calon mahasiswa memperebutkan 120 kursi untuk bisa belajar dengan fasilitas lengkap secara gratis.
Sebagai sekolah seni dan desain, fashion hanya satu dari beberapa bidang yang ditawarkan. Lallemand pun mengajak bertemu dengan mahasiswa High Diploma of Fashion Design (DSAA) jurusan Fashion and Enviromental Design dan Image Media and Editorial.
Fashion tak sebatas busana
Berbincang dengan mahasiswa DSAA jurusan Fashion and Enviromental Design, mereka bercerita pengalaman magang di rumah mode atau rumah produksi tertentu demi mendapatkan pengalaman dan ilmu yang menunjang riset mereka.
Lallemand berkata untuk syarat kelulusan, mereka harus melakukan riset yang menghasilkan setidaknya 100 halaman tulisan. Tak main-main, ada yang sampai magang di tempat pengawetan hewan karena ingin fokus pada taksedermi atau seni mengawetkan dan membentuk kembali tubuh hewan.
Sementara itu yang tak kalah menarik saat berjumpa dengan mahasiswa DSAA jurusan Image Media and Editorial. Fashion selama ini dilihat berkutat pada koleksi busana. Namun di jurusan ini, fashion ditampilkan dalam produk visual tanpa tuntutan menjahit baju.
Beberapa dari mereka mengawali studi di tingkat S1 di luar bidang fashion. Ada yang sebelumnya belajar desain ruang atau desain grafis.
Akan tetapi dari karya-karya yang ditunjukkan selama diskusi, mereka mampu mempresentasikan fashion dalam format berbeda tapi tetap menarik.
Kunjungan pun diakhiri dengan mengintip ruang-ruang fasilitas sekolah. Jika ikut berkunjung mungkin kamu bakal dibuat kagum dengan ruang yang penuh dengan mesin tenun, ruang bordir lengkap dengan gulungan benang warna-warni, juga ruang pembuatan kain.
Semua fasilitas dapat digunakan mahasiswa secara gratis guna menunjang proses belajar mereka.
(els)