Joki Baca Buku, Kala Membaca Jadi Jasa dan Gaya Hidup
Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 06:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kini, banyak orang menawarkan jasa membaca buku. (iStockphoto/seb_ra)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi para 'kutu buku', proses membaca menjadi pengalaman sendiri. Tapi, hal yang sama tidak berlaku bagi kelompok lain di seberang sana, yang merasa lelah saat harus membaca buku tebal di tengah keterbatasan waktu.
Rasa lelah itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang ramai-ramai menawarkan jasa joki baca buku. Pelanggan cukup mengirimkan buku, lalu penyedia jasa akan membacanya, memberi tanda pada bagian penting, menempelkan penanda halaman, hingga membuat anotasi sesuai permintaan.
Buku tidak hanya dikembalikan setelah dibaca, tetapi juga sudah dipenuhi stabilo, catatan, dan penanda warna-warni yang membuatnya terlihat lebih personal.
Tia (21), bukan nama sebenarnya, mahasiswa asal Bekasi, menjadi salah satu orang yang mencoba menawarkan jasa tersebut. Ia mengaku baru membuka layanan itu setelah melihat pembahasannya ramai di Threads.
"Aku ini juga baru pertama kali buka. Awalnya emang karena lihat di Threads, rame banget, dan aku ya udah nyoba aja," kata Tia saat ditanya CNNIndonesia.com, Selasa (20/10).
Ketertarikan Tia bukan tanpa alasan. Ia memang menyukai kegiatan membaca sehingga merasa pekerjaan tersebut sesuai dengan minatnya. Sebelumnya, ia menjumpai layanan anotasi dengan harga yang ditawarkan mencapai jutaan rupiah.
"Aku belum berani kalau sampai hampir segitu. Sebenarnya karena aku suka baca saja, makanya interest banget sama pekerjaan ini," ujarnya.
Dalam layanan yang ditawarkan Tia, pelanggan dapat mengirimkan buku berbahasa Indonesia maupun Inggris, baik fiksi maupun nonfiksi, termasuk buku pengembangan diri. Pelanggan juga bisa menentukan bentuk anotasi yang diinginkan mulai dari bagian penting diberi stabilo, catatan ditulis langsung pada halaman buku, dan penggunaan sticky notes atau penanda berwarna. Seluruh peralatan anotasi disediakan oleh Tia.
Tia menawarkan layanan reguler dengan kecepatan membaca sekitar 100 halaman per hari. Pelanggan yang membutuhkan pengerjaan lebih cepat dapat memilih layanan kilat dengan biaya tambahan.
Tarif yang ditawarkan bervariasi berdasarkan ketebalan buku. Dalam daftar harga yang dipublikasikan, buku setebal 100-200 halaman dikenai tarif Rp90 ribu, sedangkan buku setebal 601-800 halaman memiliki tarif Rp75 ribu per 100 halaman. Buku berbahasa Inggris dikenai biaya tambahan Rp25 ribu per 100 halaman.
Pelanggan juga bisa meminta konten berupa foto atau video buku setelah selesai dianotasi. Dengan begitu, hasil pengerjaan tidak hanya berupa buku yang sudah diberi tanda, tetapi juga materi visual yang bisa digunakan untuk kebutuhan konten.
Belum lama membuka layanan, Tia sudah menerima pelanggan yang meminta bantuan membaca buku untuk tugas kuliah.
"Aku baru dapat satu sih, buku Sophie's World yang cukup tebal. Jadinya aku diminta untuk membaca bab-bab tertentu saja. Aku sekalian menawarkan anotasi dan penanda seperti apa yang dia inginkan," cerita Tia.
Dari tugas kuliah hingga kebutuhan personal branding
Lalu, siapa yang membutuhkan jasa seperti ini? Kata Tia, calon pelanggan bisa datang dengan berbagai tujuan.
"Ada orang yang punya banyak buku tetapi enggak sempat baca, tapi mau tetap bisa diskusi di sosmed soal bukunya. Ada juga yang emang buat tugas kuliah, biasanya pada sibuk organisasi, jadi tugas tugas yang harus dapat dari bacaan buku, di-jokiin," jelasnya.
Ia juga melihat peluang dari orang-orang yang ingin membangun citra sebagai pencinta buku di media sosial, termasuk mereka yang ingin membuat konten Bookstagram atau sekadar memperlihatkan kebiasaan membaca.
"Aku sih lihatnya untuk kebutuhan story ya, kayak mau PDKT mungkin sama crush-nya. Sama itu tadi, mau diskusi di sosmed soal bukunya, tapi enggak punya waktu," katanya.
Tia menyebut sasaran jasanya juga mencakup orang yang ingin membangun citra sebagai bookworm, sebutan bagi orang yang gemar membaca, atau mengembangkan akun bertema buku di media sosial.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Kebiasaan memberi tanda pada buku sebenarnya bukan hal baru. Praktik serupa juga ditemukan di pasar internasional. Melalui Etsy, platform jual beli yang menawarkan produk kreatif, pembeli dapat menemukan jasa anotasi buku sesuai permintaan.
Sejumlah penjual menawarkan buku yang sudah diberi anotasi, lengkap dengan stabilo warna-warni dan penanda halaman. Harganya pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari Rp1 juta, bergantung pada jenis layanan yang ditawarkan.
Menukil The Guardian, anotasi buku memang berkembang menjadi bagian dari kebiasaan komunitas pembaca di media sosial. Pembaca menggunakan penanda warna, sistem kode, hingga catatan di tepi halaman untuk menandai bagian cerita yang menarik perhatian mereka.
Di sisi lain, media sosial juga memunculkan perdebatan mengenai kebiasaan membaca yang ditampilkan untuk membangun citra tertentu. Fenomena performative reading, misalnya, merujuk pada anggapan bahwa seseorang membaca bukan semata-mata untuk menikmati buku, melainkan juga untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya gemar membaca.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa membaca dapat menjadi aktivitas personal sekaligus bagian dari identitas yang ditampilkan di hadapan publik. Buku tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan atau menikmati cerita, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya.
Kemunculan jasa joki baca buku menambah dimensi lain dalam tren tersebut. Aktivitas yang biasanya dilakukan sendiri kini dapat dialihkan kepada orang lain dengan imbalan tertentu.
Bagi pelanggan, layanan ini menawarkan kemudahan, mulai dari penandaan bagian penting hingga pembuatan rangkuman dan anotasi sesuai kebutuhan. Sementara bagi penyedia jasa seperti Tia, kegemaran membaca dan kemampuan mengolah isi buku menjadi peluang untuk memperoleh penghasilan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi para 'kutu buku', proses membaca menjadi pengalaman sendiri. Tapi, hal yang sama tidak berlaku bagi kelompok lain di seberang sana, yang merasa lelah saat harus membaca buku tebal di tengah keterbatasan waktu.
Rasa lelah itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang ramai-ramai menawarkan jasa joki baca buku. Pelanggan cukup mengirimkan buku, lalu penyedia jasa akan membacanya, memberi tanda pada bagian penting, menempelkan penanda halaman, hingga membuat anotasi sesuai permintaan.
Buku tidak hanya dikembalikan setelah dibaca, tetapi juga sudah dipenuhi stabilo, catatan, dan penanda warna-warni yang membuatnya terlihat lebih personal.
Tia (21), bukan nama sebenarnya, mahasiswa asal Bekasi, menjadi salah satu orang yang mencoba menawarkan jasa tersebut. Ia mengaku baru membuka layanan itu setelah melihat pembahasannya ramai di Threads.
"Aku ini juga baru pertama kali buka. Awalnya emang karena lihat di Threads, rame banget, dan aku ya udah nyoba aja," kata Tia saat ditanya CNNIndonesia.com, Selasa (20/10).
Ketertarikan Tia bukan tanpa alasan. Ia memang menyukai kegiatan membaca sehingga merasa pekerjaan tersebut sesuai dengan minatnya. Sebelumnya, ia menjumpai layanan anotasi dengan harga yang ditawarkan mencapai jutaan rupiah.
"Aku belum berani kalau sampai hampir segitu. Sebenarnya karena aku suka baca saja, makanya interest banget sama pekerjaan ini," ujarnya.
Dalam layanan yang ditawarkan Tia, pelanggan dapat mengirimkan buku berbahasa Indonesia maupun Inggris, baik fiksi maupun nonfiksi, termasuk buku pengembangan diri. Pelanggan juga bisa menentukan bentuk anotasi yang diinginkan mulai dari bagian penting diberi stabilo, catatan ditulis langsung pada halaman buku, dan penggunaan sticky notes atau penanda berwarna. Seluruh peralatan anotasi disediakan oleh Tia.
Tia menawarkan layanan reguler dengan kecepatan membaca sekitar 100 halaman per hari. Pelanggan yang membutuhkan pengerjaan lebih cepat dapat memilih layanan kilat dengan biaya tambahan.
Tarif yang ditawarkan bervariasi berdasarkan ketebalan buku. Dalam daftar harga yang dipublikasikan, buku setebal 100-200 halaman dikenai tarif Rp90 ribu, sedangkan buku setebal 601-800 halaman memiliki tarif Rp75 ribu per 100 halaman. Buku berbahasa Inggris dikenai biaya tambahan Rp25 ribu per 100 halaman.
Pelanggan juga bisa meminta konten berupa foto atau video buku setelah selesai dianotasi. Dengan begitu, hasil pengerjaan tidak hanya berupa buku yang sudah diberi tanda, tetapi juga materi visual yang bisa digunakan untuk kebutuhan konten.
Belum lama membuka layanan, Tia sudah menerima pelanggan yang meminta bantuan membaca buku untuk tugas kuliah.
"Aku baru dapat satu sih, buku Sophie's World yang cukup tebal. Jadinya aku diminta untuk membaca bab-bab tertentu saja. Aku sekalian menawarkan anotasi dan penanda seperti apa yang dia inginkan," cerita Tia.
Dari tugas kuliah hingga kebutuhan personal branding
Lalu, siapa yang membutuhkan jasa seperti ini? Kata Tia, calon pelanggan bisa datang dengan berbagai tujuan.
"Ada orang yang punya banyak buku tetapi enggak sempat baca, tapi mau tetap bisa diskusi di sosmed soal bukunya. Ada juga yang emang buat tugas kuliah, biasanya pada sibuk organisasi, jadi tugas tugas yang harus dapat dari bacaan buku, di-jokiin," jelasnya.
Ia juga melihat peluang dari orang-orang yang ingin membangun citra sebagai pencinta buku di media sosial, termasuk mereka yang ingin membuat konten Bookstagram atau sekadar memperlihatkan kebiasaan membaca.
"Aku sih lihatnya untuk kebutuhan story ya, kayak mau PDKT mungkin sama crush-nya. Sama itu tadi, mau diskusi di sosmed soal bukunya, tapi enggak punya waktu," katanya.
Tia menyebut sasaran jasanya juga mencakup orang yang ingin membangun citra sebagai bookworm, sebutan bagi orang yang gemar membaca, atau mengembangkan akun bertema buku di media sosial.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Joki Baca Buku, dari Tugas Kuliah hingga Citra 'Bookworm'
Ilustrasi joki baca buku. (Unsplash/Pixabay)
Kebiasaan memberi tanda pada buku sebenarnya bukan hal baru. Praktik serupa juga ditemukan di pasar internasional. Melalui Etsy, platform jual beli yang menawarkan produk kreatif, pembeli dapat menemukan jasa anotasi buku sesuai permintaan.
Sejumlah penjual menawarkan buku yang sudah diberi anotasi, lengkap dengan stabilo warna-warni dan penanda halaman. Harganya pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari Rp1 juta, bergantung pada jenis layanan yang ditawarkan.
Menukil The Guardian, anotasi buku memang berkembang menjadi bagian dari kebiasaan komunitas pembaca di media sosial. Pembaca menggunakan penanda warna, sistem kode, hingga catatan di tepi halaman untuk menandai bagian cerita yang menarik perhatian mereka.
Di sisi lain, media sosial juga memunculkan perdebatan mengenai kebiasaan membaca yang ditampilkan untuk membangun citra tertentu. Fenomena performative reading, misalnya, merujuk pada anggapan bahwa seseorang membaca bukan semata-mata untuk menikmati buku, melainkan juga untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya gemar membaca.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa membaca dapat menjadi aktivitas personal sekaligus bagian dari identitas yang ditampilkan di hadapan publik. Buku tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan atau menikmati cerita, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya.
Kemunculan jasa joki baca buku menambah dimensi lain dalam tren tersebut. Aktivitas yang biasanya dilakukan sendiri kini dapat dialihkan kepada orang lain dengan imbalan tertentu.
Bagi pelanggan, layanan ini menawarkan kemudahan, mulai dari penandaan bagian penting hingga pembuatan rangkuman dan anotasi sesuai kebutuhan. Sementara bagi penyedia jasa seperti Tia, kegemaran membaca dan kemampuan mengolah isi buku menjadi peluang untuk memperoleh penghasilan.