Anak Mengalami Bullying, Ini yang Mereka Butuhkan dari Orang Tua
CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 20:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Bagi anak yang mengalami bullying, kejadian perundungan bukan sekadar persoalan dengan teman sebaya. (iStock/Thai Liang Lim)
Bantu anak merasa aman kembali, bukan sekadar menyuruhnya kuat
Pentingnya dukungan keluarga juga dibahas dalam jurnal Clinical Child and Family Psychology Review. Penelitian tersebut meninjau 158 studi untuk melihat hubungan antara faktor pengasuhan dan pengalaman anak menjadi korban bullying, baik secara langsung maupun melalui dunia digital.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pengasuhan tertentu berkaitan dengan kemungkinan anak mengalami perundungan. Kehangatan orang tua, pemberian ruang bagi kemandirian anak, dan pemantauan yang sesuai termasuk faktor perlindungan yang diteliti.
Sebaliknya, konflik antar orang tua, sikap keras, dan penarikan diri orang tua dari keterlibatan dalam kehidupan anak termasuk faktor risiko yang dianalisis.
Mendengarkan dan menenangkan anak merupakan langkah awal. Setelah itu, orang tua perlu membantu memastikan bahwa perundungan tidak terus berlangsung. Sebaiknya orang tua untuk berbicara dengan guru atau pihak sekolah.
Yang perlu dihindari adalah membebankan seluruh tanggung jawab kepada anak, misalnya hanya menyuruhnya menjauhi pelaku atau belajar membela diri. Anak memang dapat dibantu mempelajari cara merespons situasi yang tidak aman, tetapi orang dewasa tetap perlu mengambil peran untuk menghentikan perundungan.
Orang tua juga sebaiknya tidak langsung mendatangi atau memarahi anak yang diduga menjadi pelaku tanpa koordinasi. Penanganan melalui sekolah dapat membantu persoalan ditelusuri dan ditangani secara lebih terarah.
Perhatikan perubahan perilaku setelah anak mengalami bullying
Dampak perundungan tidak selalu langsung terlihat. Ada anak yang berani bercerita, tetapi ada pula yang menunjukkan perubahan perilaku tanpa menjelaskan penyebabnya.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan orang tua, seperti anak mulai takut pergi ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur, prestasi menurun, atau sering mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut tanpa penyebab yang jelas.
Mungkin pula perubahan suasana hati setelah menggunakan ponsel atau mengakses media sosial juga patut diperhatikan, terutama jika anak tampak tertekan dan enggan menceritakan apa yang terjadi.
Jika anak terus mengalami tekanan emosional dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Orang tua juga bisa membantu anak kembali menjalani aktivitas yang disukainya dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman. Tujuannya bukan memaksa anak segera melupakan pengalaman buruk, melainkan membantunya mendapatkan kembali rasa aman dan kendali atas kesehariannya.
Bagi anak yang mengalami bullying, kejadian perundungan bukan sekadar persoalan dengan teman sebaya. Pengalaman itu juga bisa memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga kenyamanan mereka saat harus kembali ke sekolah.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika mengetahui anaknya mengalami bullying dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak setelah mengalami perundungan?
Jangan buru-buru memberi solusi, dengarkan dulu cerita anak
Ketika anak akhirnya berani bercerita, orang tua mungkin ingin segera mengetahui siapa pelakunya, apa penyebabnya, dan sudah berapa lama kejadian itu berlangsung.
Informasi tersebut memang penting untuk menangani perundungan. Namun, pada percakapan pertama, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalamannya tanpa merasa sedang diinterogasi.
UNICEF Indonesia menyarankan orang tua untuk mendengarkan secara terbuka dan tenang. Fokus awalnya bukan mencari penyebab perundungan atau langsung menyelesaikan masalah, melainkan memastikan anak merasa didengar dan didukung.
Orang tua bisa memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti apa yang terjadi, bagaimana perasaan anak, dan apakah ia khawatir kejadian itu akan terulang.
Hindari pertanyaan yang terkesan menyalahkan, misalnya mempertanyakan mengapa anak tidak melawan atau apa yang telah dilakukannya hingga menjadi sasaran perundungan. Respons ini berisiko membuat anak merasa dirinya ikut bertanggung jawab atas perlakuan yang diterimanya.
Yakinkan anak bahwa ia tidak bersalah
Setelah mendengarkan cerita anak, langkah berikutnya adalah memberikan dukungan emosional yang jelas. Anak perlu mengetahui bahwa orang tua mempercayainya, menghargai keberaniannya untuk bercerita, dan tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai kesalahannya.
UNICEF menyarankan orang tua untuk menyampaikan bahwa mereka akan berusaha membantu anak mendapatkan pertolongan. Hal ini penting karena anak yang mengalami bullying bisa merasa malu, takut, atau khawatir keadaan akan semakin buruk jika orang lain mengetahuinya.
Sebagian anak juga mungkin memilih diam karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Alih-alih langsung memberi nasihat panjang, orang tua bisa mengatakan bahwa mereka percaya pada cerita anak dan akan menghadapi situasi tersebut bersama-sama.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Anak Mengalami Bullying, Ini yang Mereka Butuhkan dari Orang Tua
Ilustrasi. Bagi anak yang mengalami bullying, kejadian perundungan bukan sekadar persoalan dengan teman sebaya. (iStock/Hispanolistic)
Bantu anak merasa aman kembali, bukan sekadar menyuruhnya kuat
Pentingnya dukungan keluarga juga dibahas dalam jurnal Clinical Child and Family Psychology Review. Penelitian tersebut meninjau 158 studi untuk melihat hubungan antara faktor pengasuhan dan pengalaman anak menjadi korban bullying, baik secara langsung maupun melalui dunia digital.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pengasuhan tertentu berkaitan dengan kemungkinan anak mengalami perundungan. Kehangatan orang tua, pemberian ruang bagi kemandirian anak, dan pemantauan yang sesuai termasuk faktor perlindungan yang diteliti.
Sebaliknya, konflik antar orang tua, sikap keras, dan penarikan diri orang tua dari keterlibatan dalam kehidupan anak termasuk faktor risiko yang dianalisis.
Mendengarkan dan menenangkan anak merupakan langkah awal. Setelah itu, orang tua perlu membantu memastikan bahwa perundungan tidak terus berlangsung. Sebaiknya orang tua untuk berbicara dengan guru atau pihak sekolah.
Yang perlu dihindari adalah membebankan seluruh tanggung jawab kepada anak, misalnya hanya menyuruhnya menjauhi pelaku atau belajar membela diri. Anak memang dapat dibantu mempelajari cara merespons situasi yang tidak aman, tetapi orang dewasa tetap perlu mengambil peran untuk menghentikan perundungan.
Orang tua juga sebaiknya tidak langsung mendatangi atau memarahi anak yang diduga menjadi pelaku tanpa koordinasi. Penanganan melalui sekolah dapat membantu persoalan ditelusuri dan ditangani secara lebih terarah.
Perhatikan perubahan perilaku setelah anak mengalami bullying
Dampak perundungan tidak selalu langsung terlihat. Ada anak yang berani bercerita, tetapi ada pula yang menunjukkan perubahan perilaku tanpa menjelaskan penyebabnya.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan orang tua, seperti anak mulai takut pergi ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur, prestasi menurun, atau sering mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut tanpa penyebab yang jelas.
Mungkin pula perubahan suasana hati setelah menggunakan ponsel atau mengakses media sosial juga patut diperhatikan, terutama jika anak tampak tertekan dan enggan menceritakan apa yang terjadi.
Jika anak terus mengalami tekanan emosional dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Orang tua juga bisa membantu anak kembali menjalani aktivitas yang disukainya dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman. Tujuannya bukan memaksa anak segera melupakan pengalaman buruk, melainkan membantunya mendapatkan kembali rasa aman dan kendali atas kesehariannya.