Pernah dijilat kucing peliharaan, lalu khawatir air liurnya bisa menimbulkan penyakit? Meski terlihat sepele, kontak dengan air liur kucing ternyata memiliki risiko tertentu, terutama jika mengenai luka terbuka.
Lantas, apakah air liur kucing bahaya bagi manusia? Jawabannya bergantung pada kondisi kulit dan cara air liur tersebut masuk ke tubuh. Air liur kucing memang mengandung enzim yang memiliki aktivitas antibakteri. Namun, cairan ini tidak steril dan bisa membawa bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi.
Karena itu, penting untuk memahami perbedaan risiko ketika kucing menjilat kulit yang sehat dan ketika air liurnya mengenai luka. Berikut penjelasan mengenai risiko, gejala yang perlu diwaspadai, serta cara mencegah infeksi akibat air liur kucing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah air liur kucing bahaya bagi manusia?
Air liur kucing tidak selalu berbahaya, tetapi bukan berarti sepenuhnya aman. Mengutip Paw Pots, air liur kucing mengandung enzim, termasuk lisozim, yang memiliki aktivitas antibakteri. Meski demikian, cairan ini juga dapat membawa bakteri yang berisiko menyebabkan infeksi.
Jika kucing menjilat kulit yang utuh, risiko infeksi umumnya rendah. Namun, risikonya berbeda jika air liur mengenai luka terbuka, bekas operasi, atau kulit yang mengalami kerusakan.
Bakteri dari air liur kucing dapat masuk ke jaringan tubuh melalui luka, termasuk akibat gigitan dan cakaran. Karena itu, luka yang terpapar air liur kucing perlu segera dibersihkan.
Risiko penyakit akibat air liur kucing
Ada beberapa bakteri dan faktor yang perlu diperhatikan ketika manusia berkontak dengan air liur kucing. Berikut penjelasannya.
• Pasteurella multocida: Bakteri ini umum ditemukan di mulut kucing dan dapat menyebabkan infeksi ketika masuk melalui kulit yang terluka, terutama akibat gigitan. Infeksi dapat memicu kemerahan, pembengkakan, dan nyeri di sekitar luka.
• Capnocytophaga canimorsus: Bakteri yang dapat ditemukan di mulut kucing dan anjing ini jarang menyebabkan penyakit pada manusia. Namun, dalam kasus tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius, terutama pada orang dengan faktor risiko tertentu.
• Alergi kucing: Air liur kucing mengandung protein pemicu alergi, termasuk Fel d 1. Ketika kucing menjilati tubuhnya, protein tersebut dapat berpindah ke bulu dan serpihan kulit. Paparan alergen ini dapat memicu reaksi alergi pada orang yang sensitif.
Perlu diingat, tidak semua kontak dengan air liur kucing menyebabkan infeksi. Risiko dipengaruhi oleh kondisi kulit, jenis paparan, dan kondisi kesehatan orang yang terpapar.
Gejala infeksi akibat air liur kucing yang perlu diwaspadai
Infeksi akibat bakteri dari air liur kucing dapat menimbulkan gejala di sekitar luka maupun pada seluruh tubuh. Mengutip We Love Catz, gejala infeksi Capnocytophaga dapat muncul sekitar 3-5 hari setelah paparan, meski waktu kemunculannya bisa bervariasi.
Berikut sejumlah gejala yang perlu diperhatikan:
• Kemerahan, pembengkakan, dan nyeri di sekitar luka.
• Muncul lepuh di area yang terluka.
• Demam dan sakit kepala.
• Mual, muntah, atau diare.
• Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis atau meningitis, serta menyebabkan kerusakan jaringan.
Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, tidak memiliki limpa, berusia 40 tahun ke atas, atau memiliki kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan perlu lebih waspada terhadap risiko infeksi berat.
Jika luka akibat gigitan atau cakaran kucing menunjukkan tanda infeksi, segera cari pertolongan medis. Demam atau kondisi tubuh yang memburuk setelah terpapar air liur kucing juga perlu mendapat perhatian, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.
Cara mencegah infeksi akibat air liur kucing
Meski tidak semua paparan berbahaya, kebersihan tetap perlu dijaga untuk mengurangi risiko infeksi. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Cuci kulit yang terkena jilatan. Gunakan air mengalir dan sabun, terutama jika terdapat luka atau lecet pada kulit.
2. Hindari jilatan pada luka terbuka. Jangan biarkan kucing menjilat luka, bekas operasi, atau kulit yang masih dalam proses penyembuhan.
3. Segera bersihkan luka gigitan atau cakaran. Cuci luka dengan air mengalir dan sabun. Setelah itu, cari pertolongan medis, terutama jika luka dalam, berada di area wajah atau tangan, atau menunjukkan tanda infeksi. Tenaga medis dapat menilai kebutuhan perawatan lebih lanjut.
4. Pantau kondisi luka. Waspadai kemerahan yang meluas, pembengkakan, nyeri yang bertambah, keluarnya nanah, atau demam setelah terpapar air liur kucing.
5. Kenali tanda alergi. Bersin, hidung berair, mata gatal, atau ruam setelah berkontak dengan kucing dapat menjadi tanda reaksi alergi.
Kesimpulannya, air liur kucing yang mengenai kulit sehat umumnya memiliki risiko infeksi rendah. Namun, kontak dengan luka terbuka perlu dihindari karena bakteri dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi.
Dengan menjaga kebersihan, menghindari jilatan pada luka, dan segera menangani gigitan atau cakaran, risiko masalah kesehatan akibat kontak dengan air liur kucing dapat dikurangi.
(gas/tis)

