Menyusuri Kanal dan Tembok-Tembok Bersejarah Penuh Cerita dari Batavia

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 12:45 WIB
Menyusuri Kanal dan Tembok-Tembok Bersejarah Penuh Cerita dari Batavia
Pemandangan saat Free Walking Tour Kota Tua untuk rute The Journey to Canal and City Wall of Batavia, Kamis (22/10).(CNN Indonesia/Dena Sari Dewi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menjelajah Kota Tua di Jakarta Barat bisa menjadi kegiatan menyenangkan sekaligus cara untuk mengenal sejarah Kota Jakarta. Salah satunya melalui program Free Walking Tour Kota Tua yang diselenggarakan oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua.

Tim CNNIndonesia.com mengikuti tur tersebut pada Kamis (22/10) mulai pukul 9.30 WIB, dengan memilih rute The Journey to Canal and City Wall of Batavia.

Perjalanan yang dipandu tenaga ahli tourist guide Unit Kota Tua, Gilang Ramadhan, dengan memilih perjalanan menyusuri sejumlah kawasan bersejarah di Jakarta, yang dimulai dari Tourist Information Center Kota Tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari titik kumpul tersebut, peserta diajak berjalan kaki menyusuri sejumlah lokasi bersejarah, mulai dari kanal yang dahulu menjadi pusat perdagangan hingga sisa tembok pertahanan Kota Batavia.

Gilang sedikit menjelaskan tentang sejarah Kota Tua yang dulunya dibangun oleh VOC pada 1916 dan diberi nama Batavia. Awalnya, Kota Tua dibangun dengan tujuan sebagai pusat utama pemerintahan.

"Kota tua Jakarta yang kita kenal itu bermula dari sebuah kota kolonial yang bernama Batavia. Dulu kotanya dikelilingi oleh tembok kota, rute ini berada di area tengah lalu berjalan menuju utara," jelas Gilang.

Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Kanal Batavia atau Kali Besar. Pada masa kolonial, kawasan ini dikenal dengan nama De Groote Rivier, yang berarti sungai besar.

Kali Besar dahulu menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi Batavia karena terhubung ke laut. Kapal dan perahu berlabuh di tepiannya untuk melakukan bongkar muat barang, sementara gudang-gudang perdagangan berdiri di sepanjang kawasan tersebut.

Dulunya, kawasan ini memiliki peraturan unik yang disebut waterfront city. Bangunan yang berdiri di sepanjang kanal pada masa Batavia diwajibkan menghadap ke arah kanal.

Dari kanal, perjalanan berlanjut menyusuri Jalan Kali Besar Timur. Di sepanjang jalan ini, peserta dapat melihat bangunan-bangunan tua yang menjadi bagian dari sejarah Kota Tua.

Perjalanan kemudian sampai di destinasi kedua, Jembatan Kota Intan, salah satu peninggalan bersejarah yang menarik perhatian karena bentuknya berbeda dari jembatan modern.

Jembatan ini dahulu dikenal dengan beberapa nama, termasuk Ophaalbrug Juliana, karena pada masa itu Belanda memiliki putri bernama Putri Juliana yang kemudian menjadi ratu pada tahun 1939.

Keunikan Jembatan Kota Intan terletak pada mekanismenya yang dahulu memungkinkan jembatan diangkat dan diturunkan untuk memberi jalan bagi kapal yang melintas. Selain itu, jembatan ini menggunakan kayu besi yang dikenal kuat, tahan terhadap air, dan tidak mudah terbakar.

"Belanda biasanya memilih material khusus untuk membangun infrastruktur yang berada di dekat air, yakni menggunakan Kayu Besi atau Kayu Ulin yang terutama banyak ditemukan di Kalimantan," kata Gilang.

Mengikuti Walking Tour Rute The Journey to Canal and City Wall of Batavia BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2