Menyusuri Kanal dan Tembok-Tembok Bersejarah Penuh Cerita dari Batavia

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 12:45 WIB
Menyusuri Kanal dan Tembok-Tembok Bersejarah Penuh Cerita dari Batavia
Pemandangan saat Free Walking Tour Kota Tua untuk rute The Journey to Canal and City Wall of Batavia, Kamis (22/10).(CNN Indonesia/Dena Sari Dewi)

Setelah Indonesia merdeka, jembatan ini kemudian dikenal sebagai Jembatan Kota Intan. Nama tersebut merujuk pada Bastion Diamantatau Bastion Intan, bagian dari benteng Batavia yang dahulu berada di dekat jembatan. Seiring waktu, nama Kota Intan lebih dikenal masyarakat dan digunakan hingga sekarang.

Rute selanjutnya melewati kawasan Pasar Ayam, peserta akan menuju Gedong Galangan, bangunan yang berkaitan dengan aktivitas maritim dan perdagangan pada masa VOC. Di sepanjang jalan juga bisa terlihat beberapa toko yang masih menjual atau menjadi tempat untuk memperbaiki kapal.

"Sekitar tahun 2000-an Gedong Galangan pernah menjadi sebuah Resto Galangan VOC. Tapi VOC bukan mengacu pada Belanda, melainkan merk Very Old Cafe," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak jauh dari Gedong Galangan, peserta juga melihat replika Gerbang Amsterdam. Keberadaan replika ini menjadi pengingat akan benteng dan gerbang yang dahulu menjadi bagian dari tata kota Batavia.

Dari sana, rombongan berjalan menuju Menara Syahbandar. Menara ini berdiri di kawasan bekas Bastion Culemborg yang dibangun sekitar 1645. Letaknya yang dekat dengan pelabuhan membuat menara tersebut berkaitan erat dengan pengawasan aktivitas kapal dan perdagangan di Batavia.

"Pada 1830an Menara Syahbandar dikenal dengan nama Uitkijkpost, atau menara pengawas. Jadi fungsinya untuk mengawasi keluar masuknya kapal dari Sunda Kelapa," kata Gilang.

Saat ini, posisi Menara Syahbandar mengalami kemiringan karena dibangun di lahan basah serta akibat faktor getaran dari arus lalu lintas kendaraan yang melintas di sekitarnya. Banyak juga yang menyebut Menara Syahbandar sebagai Menara Pizza dari Jakarta.

Perjalanan berlanjut ke area di depan Museum Bahari, yang dahulu merupakan kompleks gudang milik VOC. Bangunan museum awalnya digunakan untuk menyimpan berbagai komoditas perdagangan, seperti rempah kering.

"Bangunan ini juga memiliki angkur untuk menjaga pondasi apabila mengalami gempa. Selain itu, pintu dan jendela juga berukuran besar karena memanfaatkan alam untuk penerangan dan ventilasi," jelas Gilang.

Sebagai destinasi terakhir, peserta dapat melihat Tembok Batavia yang berada di depan Museum Bahari. Tembok ini merupakan bagian dari sistem pertahanan yang dahulu mengelilingi Kota Batavia dan masih berdiri hingga sekarang.

(dsd/wiw)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2