s

Apakah Kucing Liar bisa Menularkan Penyakit ke Manusia?

CNN Indonesia
Selasa, 27 Okt 2026 11:15 WIB
Meski terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala tertentu, kucing liar tetap berpotensi membawa kuman penyebab penyakit.
Ilustrasi. Meski terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala tertentu, kucing liar tetap berpotensi membawa kuman penyebab penyakit. (Getty Images/iStockphoto/Jonas Arturo)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernahkah Anda melihat kucing liar berkeliaran di sekitar rumah, pasar, atau tempat makan? Meski terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala tertentu, kucing tersebut tetap berpotensi membawa kuman penyebab penyakit.

Lantas, apakah kucing liar bisa menularkan penyakit ke manusia hanya melalui sentuhan, atau penularannya membutuhkan kontak tertentu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebenarnya, risiko penularan dapat terjadi melalui gigitan, cakaran, kotoran, hingga parasit yang dibawa kucing. Beberapa penyakit bahkan bisa menular ketika seseorang membersihkan tanah yang terkontaminasi kotoran kucing.

Karena itu, mengenali cara penularannya penting agar Anda dapat tetap waspada tanpa harus menyakiti hewan tersebut. Simak jenis penyakit yang perlu diwaspadai dan cara melindungi diri saat berada di sekitar kucing liar.

Apakah kucing liar bisa menularkan penyakit ke manusia?

Kucing liar memang dapat menularkan penyakit kepada manusia. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kucing dapat membawa kuman berbahaya meskipun terlihat sehat dan bersih. Risiko penularan bergantung pada jenis kuman serta cara seseorang berkontak dengan kucing atau lingkungan yang terkontaminasi.

Kajian yang diterbitkan dalam ASM Journals menjelaskan bahwa penyakit dari kucing dapat menyebar melalui beberapa jalur, seperti gigitan, cakaran, kontak langsung, kotoran, dan perantara seperti kutu atau caplak.

Jenis penyakit yang dapat ditularkan kucing liar

Ada beberapa penyakit yang perlu diwaspadai ketika beraktivitas di sekitar kucing liar. Berikut di antaranya.

1. Penyakit cakaran kucing (cat scratch disease)

Infeksi ini dapat terjadi setelah cakaran kucing merusak permukaan kulit. Gejalanya dapat berupa benjolan di area luka, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

2. Rabies

Virus rabies berisiko menular melalui gigitan atau kontak air liur hewan yang terinfeksi dengan luka terbuka atau selaput lendir. Gigitan dari kucing liar yang status vaksinasinya tidak diketahui perlu segera mendapat penilaian medis.

3. Toksoplasmosis

Parasit Toxoplasma gondii dapat menyebar melalui kotoran kucing yang terinfeksi dan mencemari tanah atau makanan. Infeksi perlu mendapat perhatian khusus selama kehamilan karena dapat membahayakan janin.

4. Kurap (ringworm)

Infeksi jamur ini dapat menular melalui kontak dengan kucing yang terinfeksi atau benda dan lingkungan yang terkontaminasi. Gejalanya dapat berupa ruam melingkar, kulit bersisik, dan gatal.

5. Infeksi saluran pencernaan

Kuman seperti Campylobacter dan Salmonella dapat menyebar melalui kotoran yang mencemari tangan, makanan, atau air.

Cara mencegah penularan penyakit dari kucing liar

Untuk mengurangi risiko infeksi, lakukan langkah pencegahan berikut:

1. Hindari menyentuh kucing yang tidak dikenal. Jangan memancingnya bermain kasar atau mencoba menangkapnya tanpa bantuan orang yang terlatih.
2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Lakukan setelah berkontak dengan kucing atau lingkungan yang mungkin terkontaminasi.
3. Gunakan sarung tangan saat berkebun. Tanah dapat tercemar kotoran kucing, sehingga tangan perlu dilindungi dan dibersihkan setelah kegiatan selesai.
4. Jauhkan tangan dari wajah dan makanan. Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko masuknya kuman melalui mulut, hidung, atau mata.
5. Segera bersihkan luka gigitan atau cakaran. Cuci dengan sabun dan air mengalir, lalu segera cari pertolongan medis jika kulit terluka, terutama bila kucing tidak dikenal atau status vaksinasinya tidak diketahui.

Ibu hamil, anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah perlu memberi perhatian lebih terhadap risiko penyakit dari kucing. Kelompok tersebut dapat mengalami komplikasi lebih serius akibat infeksi tertentu.

Jika setelah digigit atau dicakar muncul kemerahan, pembengkakan, nyeri, atau demam, segera periksakan diri. Jangan menunggu gejala berat muncul, terutama jika ada kemungkinan paparan rabies.

(gas/asr)
LIHAT SELENGKAPNYA