Sering Bikin Bingung, Apa Saja Ciri-ciri Pemimpin yang Buruk?

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 07:50 WIB
Ciri-ciri pemimpin yang buruk.
Ilustrasi. Ciri-ciri pemimpin yang buruk. (istockphoto/Tinpixels)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Semua orang bisa jadi pemimpin, tapi tak semua orang punya kemampuan memimpin. Saat seseorang dipaksakan untuk menjadi pemimpin, maka bisa jadi kepemimpinan yang dijalani berlangsung buruk.

Ciri-ciri pemimpin yang buruk sebenarnya bisa dilihat dari beberapa hal. Pemimpin yang buruk umumnya tidak memiliki empati hingga tak mau mengakui kesalahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada dasarnya, tak semua orang punya gaya kepemimpinan yang sama. Satu pemimpin mungkin akan berbeda dengan pemimpin lainnya.

Tapi setidaknya, tanda seseorang sebenarnya tidak punya kemampuan untuk memimpin bisa dilihat dari bagaimana keseharian mereka.
Setidaknya, beberapa hal berikut menjadi tanda seseorang sebenarnya tidak punya kemampuan untuk memimpin.

1. Tidak punya empati

Kurangnya empati jadi salah satu tanda kepemimpinan yang buruk. Hal ini bisa menunjukkan adanya kesenjangan antara pemimpin dan anggota timnya.

Empati sendiri dapat dilihat dari pemahaman dan cara seseorang menghormati perasaan orang lain. Empati dapat meningkatkan kekompakan tim.

2. Tidak konsisten

Pemimpin idealnya menjadi contoh bagi anggota timnya. Pemimpin yang tidak konsisten akan jadi contoh yang buruk bagi anggota timnya.

Sifat tidak konsisten seorang pemimpin akan menurunkan kepercayaan dari tim.

3. Egois

Mementingkan ego pribadi jadi salah satu tanda utama kepemimpinan yang buruk. Seorang pemimpin seharusnya mengutamakan juga kepentingan dan sudut pandang anggota tim, alih-alih memaksakan kehendak sendiri.

Jika seorang pemimpin mementingkan ego pribadinya, maka hal tersebut dapat membuat anggota tim merasa terasingkan.

4. Tak mau mengakui kesalahan

Pemimpin seharusnya tak perlu malu. Mengakui kesalahan tak akan membuat citra seorang pemimpin menurun.

Pemimpin yang buruk sering enggan mengakui kesalahan. Hal ini akan menghambat perkembangan mereka.

5. Kurang mendengar masukan tim

Sebuah tim tak berdiri sendiri. Selain seorang pemimpin, ada juga anggota tim yang pendapatnya juga layak untuk didengar.

Pemimpin yang tak mau mendengar masukan dari anggotanya sering kali mengambil keputusan sendiri. Hal ini dapat memicu penurunan moral, berkurangnya komitmen, serta potensi ketidakselarasan dengan tujuan organisasi.

6. Tidak tegas

Pemimpin seharusnya bersikap tegas. Ketegasan akan membuat arahan menjadi lebih jelas.

Selain itu, ketegasan juga membuat anggota tim tahu apa yang harus mereka lakukan.

Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Dibutuhkan kematangan emosional untuk bisa menjadi pemimpin yang baik.

(asr)