Kenapa Baju Jersey Masih Bau Keringat Meski Sudah Dicuci?

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 13:00 WIB
Ilustrasi. Meski sudah dicuci, baju jersey tetap terasa bau keringat. (iStockphoto/suman bhaumik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baju sudah dicuci, deterjen dan pewangi sudah digunakan, tetapi bau keringat masih tercium saat dikenakan kembali. Pernah mengalami hal serupa?

Kondisi ini bisa terjadi pada pakaian berbahan sintetis, termasuk polyester yang banyak digunakan untuk jersey olahraga. Meski sudah dicuci berulang kali, bau keringat terkadang masih tertinggal pada serat kain.

Bukan sekadar soal keringat

Bau pada pakaian tidak hanya berasal dari keringat. Bakteri di kulit dapat menguraikan komponen keringat dan minyak alami kulit atau sebum menjadi senyawa yang menimbulkan bau.

Saat pakaian dikenakan, keringat, sebum, dan mikroorganisme berpindah ke serat kain. Sebagian residunya dapat bertahan meski pakaian sudah dicuci.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Microbiology Spectrum menunjukkan bahwa karakteristik serat memengaruhi interaksi kain dengan bakteri. Bahan polyester cenderung menahan lebih banyak bakteri dan sebum dibandingkan dengan katun.

Sebum yang tertinggal pada serat kain dapat menjadi sumber nutrisi bagi bakteri. Mikroorganisme tersebut kemudian menghasilkan senyawa yang memicu bau tidak sedap.

Sudah dicuci, kok masih bau?

Penelitian dalam jurnal BMC Biology mengamati perubahan mikroorganisme dan senyawa penyebab bau pada kaus berbahan sintetis setelah dipakai, dicuci, dan dikeringkan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pencucian dapat mengurangi sejumlah senyawa volatil penyebab bau, tetapi juga mengubah komposisi mikroorganisme pada kain. Jumlah bakteri dengan membran sel yang masih utuh bahkan meningkat setelah pencucian.

Selain mikroorganisme, senyawa pemicu bau yang tertahan pada serat kain juga dapat membuat pakaian tetap berbau meski sudah dicuci berulang kali.

Hal ini ditemukan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Textile Research Journal. Peneliti menguji kain katun dan polyester yang diberi tiga senyawa berbau, kemudian menjalani satu, lima, hingga sepuluh siklus pengotoran dan pencucian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian lebih efektif menghilangkan senyawa penyebab bau dari kain katun dibandingkan dengan polyester. Sejumlah senyawa juga masih tertinggal setelah pencucian, dengan jumlah residu yang meningkat dari satu hingga lima siklus pengotoran dan pencucian.

Temuan ini menunjukkan bahwa bau yang menetap pada pakaian tidak selalu berkaitan dengan seberapa sering pakaian dicuci. Jenis serat kain dan kemampuan kain melepaskan senyawa penyebab bau juga berperan.

Cara agar pakaian tidak mudah bau

Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan saat merawat pakaian agar bau keringat tidak mudah menetap.

• Segera cuci pakaian yang basah oleh keringat. Hindari membiarkannya terlalu lama dalam kondisi lembap, terutama setelah berolahraga.

• Pastikan pakaian benar-benar kering sebelum disimpan. Pengeringan yang lambat dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan memicu bau.

• Jaga kebersihan mesin cuci. Residu deterjen, kotoran, dan mikroorganisme di dalam mesin berpotensi memengaruhi kebersihan pakaian.

• Ikuti petunjuk perawatan pada label pakaian. Gunakan deterjen sesuai takaran dan pilih metode pencucian yang sesuai dengan jenis kain. Pewangi dapat membantu menutupi bau, tetapi belum tentu menghilangkan senyawa penyebabnya.

Jadi, pakaian yang masih berbau keringat setelah dicuci bukan selalu berarti deterjen yang digunakan kurang ampuh. Karakteristik serat kain, sisa senyawa penyebab bau, mikroorganisme, serta proses pengeringan juga dapat memengaruhi hasil pencucian.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK