Seorang ibu bernama Emily Hughes di Australia mencurigai lutut putrinya, kini berusia 4 tahun, yang bengkak. Meski dokter sebelumnya bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan, ia mencari opini lain dan menemukan diagnosis yang mengagetkan.
Sang putri, Scarlett Hughes, awalnya mengalami bengkak pada lutut yang dikira akibat aktivitas bermain. Namun ternyata itu merupakan tanda awal juvenile idiopathic arthritis (JIA), atau radang sendi idiopatik juvenil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pekerjaan saya berkaitan dengan para atlet, jadi saat melihat lutut yang bengkak pada seorang anak berusia 18 bulan, saya berpikir, 'Wah, aneh sekali,'" ujar Emily, seperti dilansir People.
Ia mendeteksi kondisi ini pada akhir 2023 sesaat sebelum Natal. Karena Scarlett dikenal aktif, ia sempat menduga pembengkakan itu akibat anaknya banyak melompat dan memanjat. Saat itu, Scarlett tampak sehat dan berenergi. Emily pun memilih memantau kondisinya.
Namun, pembengkakan tak kunjung hilang hingga Januari. Emily dan pasangannya, Darrell, kemudian membawa Scarlett ke ahli osteopati. Dalam pemeriksaan, Scarlett juga kesulitan meluruskan salah satu siku, meski tidak terlihat kesakitan.
Hasil pemeriksaan awal belum menunjukkan jawaban jelas. Menurut Emily, seorang dokter mengatakan tidak ada masalah, sedangkan dokter keluarga mereka menyebut hasil darah tampak baik, meski ada sedikit peningkatan pada beberapa indikator.
Kondisi Scarlett memburuk pada Februari. Lututnya makin bengkak, terasa panas dan nyeri, hingga ia tidak mau menumpu berat badan. Keluarga segera membawanya ke Royal Children's Hospital di Melbourne.
Dokter awalnya mencurigai artritis septik, yakni infeksi serius pada sendi. Mereka melakukan prosedur untuk membersihkan sendi yang terdampak, tetapi penyebab gejalanya belum ditemukan.
Selama beberapa bulan berikutnya, spesialis penyakit infeksi dan ortopedi memeriksa Scarlett. Pemeriksaan juga menemukan adanya fusi pada sendi sikunya.
Pada Mei, dokter menilai gejalanya mengarah pada JIA yang melibatkan tiga sendi. Emily mengaku diagnosis itu terasa melegakan sekaligus menakutkan.
"Saya tidak cukup tahu untuk memiliki prasangka apa pun, selain bahwa itu adalah penyakit orang tua," ucap Emily.
Di sisi lain, kekhawatiran baru muncul, yakni uveitis, peradangan mata yang dapat mengganggu penglihatan. Soalnya, sekitar 10-20 persen anak dengan JIA dapat mengalami kondisi tersebut.
Namun dengan perawatan dan rencana pengobatan dari tim medis, kondisi Scarlett membaik secara bertahap. Kini ia telah mengalami remisi dan kembali menikmati kegiatan favoritnya, seperti jungkir balik dan memanjat di halaman rumah.
Menengok kembali pengalaman ini, Emily mengatakan satu hal tersulit ketika itu, yakni perasaan dan kekhawatirannya tak selalu didengarkan oleh para tenaga medis.
"Rasanya sungguh... mungkin kata 'menantang' kurang tepat, tetapi ada kesadaran bahwa orang lain tidak selalu menanggapi Anda dengan serius atau menganggap Anda benar-benar memahami apa yang sedang Anda bicarakan," tuturnya.
Mengenal juvenile idiopathic arthritis (JIA)
Penyakit arthritis tak selalu dialami pada usia dewasa, tetapi juga anak-anak. Mengutip Mayo Clinic, Artritis idiopatik juvenil atau JIA, merupakan jenis artritis yang dialami anak di bawah usia 16 tahun.
Disebut idopatik, karena penyebabnya belum diketahui. Namun kondisi ini bisa terjadi ketika sistem kekebalan tubuh terlalu aktif dan menyebabkan peradangan di dalam tubuh.
JIA bisa menyebabkan nyeri sendi berkepanjangan, pembengkakan, dan kekakuan. Berbagai gejala ini ada yang berlangsung beberapa tahun saja, ada pula yang berlanjut selama bertahun-tahun.
Jenis JIA tertentu bahkan bisa menyebabkan komplikasi serius. Misalnya, pertumbuhan melambat, kerusakan sendi, hingga peradangan pada mata.
Ini beberapa gejala JIA yang paling umum terjadi:
- Nyeri: Anak mungkin tidak mengeluh nyeri sendi, tetapi ia bisa terlihat pincang, terutama di pagi hari atau setelah tidur siang.
- Pembengkakan: Ini sering terjadi pada sendi yang lebih besar, seperti lutut.
- Kekakuan: Anak mungkin tampak lebih canggung atau kikuk dari biasanya, terutama setelah tidur atau beristirahat.
- Demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam: Dalam beberapa kasus, anak mungkin mengalami berbagai gejala ini dan sering kali memburuk di malam hari.
Segera konsultasi dengan tenaga medis jika anak mengalami beberapa gejala di atas. Jangan menunda terlalu lama untuk memulai pengobatan, karena bisa menyebabkan kerusakan sendi, mengurangi efektivitas pengobatan, dan menyebabkan masalah kesehatan lainnya.
(rti)
