Sebuah dusun di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki fenomena alam yang membuatnya berbeda dari permukiman pada umumnya. Dusun ini hanya mendapat paparan sinar matahari langsung sekitar tujuh jam sehari karena kondisi geografisnya.
Dusun Wotawati, berada di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Permukiman ini terletak di sebuah lembah yang merupakan jejak aliran Bengawan Solo Purba dan diapit perbukitan di sisi timur dan barat.
Kondisi tersebut membuat sinar matahari pagi baru mencapai permukiman sekitar pukul 08.30-09.00 WIB. Sementara itu, menjelang sore, cahaya matahari mulai terhalang bukit sekitar pukul 16.00 WIB. Akibatnya, suasana dusun lebih cepat gelap dibandingkan kawasan lain di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Detik, selain fenomena sinar mataharinya, Wotawati memiliki keunikan lain untuk menarik wisatawan berupa tampilan permukiman bergaya klasik yang mengingatkan pada suasana kerajaan masa lampau.
Sejumlah rumah warga ditata dengan fasad bata merah ekspos dan gapura yang seragam. Jalan-jalan di antara rumah warga juga saling terhubung melalui gang-gang kecil sehingga menyerupai labirin.
"Kami membangun pagar menggunakan material bata merah yang identik dengan Majapahit. Namun untuk bentuknya, kami akulturasikan dengan arsitektur Mataram Yogyakarta karena secara administratif kami berada di wilayah Jogja, Gunungkidul. Akulturasi Majapahit dan Mataram inilah yang membuat cepat viral di akhir 2024," jelas Estu Dwiyono, Lurah Pucung.
Pemerintah setempat tengah mengembangkan Wotawati sebagai kawasan wisata. Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada 26 Juni 2026, kawasan ini belum resmi dibuka untuk umum karena pembangunan infrastruktur masih berlangsung.
Pengembangan kawasan Wotawati telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu dengan mengangkat potensi alam dan sejarah Bengawan Solo Purba.
Pemerintah Kalurahan Pucung juga mengkaji pengembangan kawasan tersebut sebagai desa wisata yang mengintegrasikan pelestarian alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Selain menikmati suasana lembah, pengunjung nantinya dapat menjelajahi jalur trekking dan mengunjungi sejumlah titik yang disiapkan sebagai spot fotografi.
Estu menyebutkan bahwa pembukaan resmi ditargetkan pada akhir 2027. Pengembangan tersebut mengusung konsep pariwisata berkelanjutan, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan warga melalui potensi alam dan kegiatan ekonomi lokal.
(dsd/wiw)