Beban Kerja Jadi Pemicu Utama Burnout Pekerja Indonesia
Beban pekerjaan yang menumpuk, tenggat waktu yang ketat, hingga arahan atasan yang berubah-ubah menjadi sejumlah faktor yang memicu burnout pada pekerja Indonesia. Menariknya, tekanan pekerjaan lebih banyak disorot dibandingkan persoalan gaji, menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan tidak hanya ditentukan oleh besaran kompensasi.
Temuan tersebut terungkap dalam survei internal Payuung. Berdasarkan pengelompokan jawaban sekitar 40 responden, sebanyak 33 persen menyebut beban kerja dan tekanan waktu sebagai faktor pemicu burnout. Sementara itu, 25 persen jawaban berkaitan dengan arahan serta manajemen perusahaan.
Adapun gaji hanya disebut oleh 2 persen responden sebagai faktor penyebab burnout.
Hasil survei tersebut menyoroti pentingnya peran perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Pasalnya, stres kerja yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi produktivitas, motivasi, hingga kesehatan karyawan.
CEO Payuung dan Fast8 People Hub, Afia Fitriati menilai perusahaan di Indonesia perlu lebih memperhatikan kesehatan mental karyawan. Dukungan yang diberikan pun perlu melampaui gaji dan tunjangan, termasuk melalui pengelolaan beban kerja, komunikasi yang baik, serta akses terhadap bantuan profesional.
"Ketika karyawan tidak memiliki ruang untuk mencari bantuan, produktivitasnya akan menurun dan pada akhirnya perusahaan juga akan terdampak. Selama ini, benefit karyawan masih sering kali dilihat dari sisi gaji dan tunjangan. Padahal, cara mengelola tekanan pekerjaan, komunikasi dengan atasan, dan support system seputar karier, mental, dan finansial juga tidak kalah penting," ujar Afia dalam keterangannya.
Menurut dia, perusahaan perlu membangun sistem dukungan yang memungkinkan karyawan menghadapi tantangan pekerjaan tanpa mengabaikan kesejahteraan diri.
"Melalui platform Payuung, kami ingin membantu lebih banyak perusahaan Indonesia menjadi green flag companies atau tempat kerja yang sehat bagi semua orang, baik pebisnis maupun karyawan, agar dapat tumbuh dan berkembang," katanya.
Perusahaan perlu perhatikan kesehatan mental karyawan
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Payuung meluncurkan layanan konseling dan konsultasi profesional pada 10 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day.
Melalui layanan konseling dan konsultasi tersebut, perusahaan dapat menyediakan akses bagi karyawan untuk mendapatkan bantuan terkait kesehatan mental, pengelolaan keuangan, serta pengembangan karier. Karyawan dapat memilih tenaga profesional sesuai kebutuhan dan menentukan jadwal sesi secara daring.
Durasi konsultasi tersedia mulai dari 30 hingga 150 menit, dengan jaminan kerahasiaan sesi. Afia mengatakan layanan tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan menyediakan benefit yang lebih sesuai dengan kebutuhan karyawan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kerja yang sehat.
Temuan survei tersebut menjadi pengingat bahwa kesejahteraan pekerja tidak cukup hanya ditopang oleh kompensasi. Pengelolaan beban kerja yang realistis, komunikasi yang jelas antara atasan dan karyawan, serta akses terhadap dukungan profesional juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
(tis/tis)