Urusan menstruasi bukan sekadar memilih produk yang bisa menyerap darah. Ada banyak hal yang ikut menentukan pilihan perempuan, mulai dari kenyamanan, harga, kebiasaan sejak pertama kali menstruasi, hingga kemudahan menemukan produk di toko.
Pembalut sekali pakai masih menjadi pilihan utama bagi banyak perempuan di Indonesia. Pembalut jenis ini sudah menjadi bagian dari rutinitas menstruasi banyak perempuan Indonesia. Produk ini mudah ditemukan, relatif praktis digunakan, dan tidak memerlukan proses pencucian setelah pemakaian.
Lihat Juga :![]() HARI KEBERSIHAN MENSTRUASI Pilih Mana untuk Tampung Darah Haid: Pembalut, Tampon, Menstrual Cup? |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip jurnal Cogent Social Sciences tahun 2023, 96,8 persen wanita di Indonesia menggunakan pembalut sekali pakai sebagai produk menstruasi.
Selain kemudahan penggunaan, harga dan kebiasaan juga memengaruhi keputusan memilih produk menstruasi. Penelitian bertajuk Generational Perspectives on Menstrual Health Management in Indonesia ini membahas perbedaan perspektif generasi dalam mengelola kesehatan menstruasi.
Mengutip penelitian yang dirujuk dalam kajian tersebut, perempuan Indonesia menghabiskan rata-rata 1,7 persen dari pendapatan bulanan mereka untuk membeli produk terkait menstruasi. Angka itu sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata perempuan di 18 negara Asia.
Pengeluaran tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan menstruasi merupakan bagian dari biaya rutin yang perlu diperhitungkan setiap bulan. Pilihan produk pun tidak bisa dilepaskan dari kemampuan membeli dan kebutuhan untuk mengganti produk secara berkala.
Menstrual cup alternatif lebih irit ongkos, menarik atau tidak?
Di tengah tingginya harga kebutuhan pembalut yang harus dikeluarkan tiap bulannya, sebenarnya ada menstrual cup sebagai produk menstruasi alternatif yang bisa lebih irit ongkos lantaran bisa digunakan berulang.
Menstrual cup adalah wadah berbahan silikon yang berbentuk menyerupai cangkir kecil. Menstrual cup dimasukkan ke dalam vagina untuk menampung darah menstruasi. Berbeda dari pembalut sekali pakai, produk ini dapat dibersihkan dan digunakan kembali sesuai petunjuk pemakaian.
Sayangnya, meski diklaim bisa memangkas pengeluaran untuk kebutuhan menstruasi, menstrual cup tampaknya belum menarik perhatian banyak perempuan. Salah satunya ditemukan dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Sustainability. Stud ini membandingkan penggunaan dan persepsi terhadap produk menstruasi di beberapa negara, salah satunya di Indonesia.
Hasilnya menunjukkan bahwa pembalut sekali pakai tetap menjadi produk yang paling rutin digunakan. Sementara itu, penggunaan menstrual cup masih relatif rendah.
Dari data itu, meski sudah banyak perempuan Indonesia yang mengenal menstrual cup, tapi penggunaannya baru mencapai 0,7 persen.
Banyak responden Indonesia yang khawatir mengenai ketidaknyamanan yang diberikan menstrual cup. Ada juga persoalan risiko kebocoran dan kebersihan yang dipertimbangkan.
Harga juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keputusan menggunakan produk menstruasi alternatif. Dalam penelitian tersebut, responden ditanya apakah mereka bersedia menggunakan menstrual cup jika produk itu diberikan secara gratis.
Hasilnya, 63,9 persen responden Indonesia menyatakan bersedia mengadopsi menstrual cup apabila tersedia secara gratis. Hasil tersebut menunjukkan bahwa menghilangkan biaya pembelian berpotensi mendorong minat terhadap menstrual cup.
(anm/asr)
