Halloween di Shibuya Tak Lagi Disambut, Warga Mulai Gerah dengan Turis
Popularitas Shibuya di Tokyo sebagai salah satu spot untuk merayakan Halloween mulai meredup. Perayaan yang dulunya menjadi ajang bersenang-senang kini justru memicu keluhan akibat perilaku pengunjung yang dianggap mengganggu ketertiban.
Shibuya sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi pelancong di Jepang. Area ikonis ini selalu dipadati orang, mulai dari warga lokal hingga turis yang ingin merasakan langsung suasana salah satu persimpangan tersibuk di dunia.
Setiap hari, lebih dari 500 ribu orang melintasi Shibuya Crossing dengan berjalan kaki, berlari, bermain skateboard, hingga menari. Kawasan ini juga terkenal sebagai pusat tren anak muda dan tempat berkumpul saat Halloween.
Namun, popularitasnya mulai menjadi masalah bagi sebagian warga. Gara-garanya perilaku pengunjung yang dianggap mengganggu.
Pada perayaan Halloween kali ini, pemerintah setempat justru mengampanyekan slogan 'Goodbye Bad Halloween'. Kampanye ini dirilis untuk mencegah keributan dan dangguan di ruang publik, utamanya di sekitar Shibuya.
Halloween di Shibuya sendiri telah dikenal sejak awal 2010-an. Pada 2017, pemerintah bahkan ikut mempromosikan acara bertajuk 'ShibuHallo' sebagai kegiatan komunitas untuk merayakan Halloween.
Perlahan, acara yang mulanya hanya perayaan komunitas itu kian membesar. Dalam waktu sekitar satu dekade, Halloween di Shibuya berkembang menjadi acara yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai negara.
Masalah akibat turis
Popularitas Halloween di Shibuya mulai membawa persoalan tersendiri. Pemerintah setempat menghadapi berbagai keluhan, mulai dari orang yang buang air kecil sembarangan, kebisingan, botol pecah di jalan, hingga kerusakan bangunan.
Wali Kota Shibuya Ken Hasebe, yang menjabat sejak 2015, menjadi salah satu pihak yang berupaya mengatasi persoalan tersebut.
Pada 2018, Hasebe sebenarnya masih menyambut pengunjung yang ingin merayakan Halloween di kawasan itu. Namun, ia mengingatkan agar mereka tetap bersenang-senang tanpa mengganggu warga sekitar.
Saat itu, pemerintah masih berusaha mencari keseimbangan antara kebebasan pengunjung untuk merayakan Halloween dan kenyamanan masyarakat setempat. Meski sempat terjadi sejumlah masalah, termasuk beberapa penangkapan, imbauan tersebut dinilai masih bisa menjadi jalan tengah.
Akan tetapi, situasinya berubah setelah jumlah wisatawan terus meningkat dan perayaan semakin sulit dikendalikan.
Masalah yang terjadi di Shibuya juga tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah wisatawan di Jepang. Setelah kembali membuka diri pascapandemi, Jepang mengalami lonjakan kunjungan turis asing. Pada 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke negara tersebut mencapai lebih dari 40 juta orang. Angka ini sekitar lima kali lipat dibandingkan 2012.
Di Tokyo, perayaan Halloween di Shibuya menjadi salah satu contoh bagaimana lonjakan wisatawan dapat memunculkan persoalan baru bagi warga setempat.
Goodbye Bad Halloween, bukan lagi ajakan berpesta
Kini, pemerintah Shibuya mulai mengubah cara mereka menyikapi perayaan Halloween. Jika sebelumnya mereka mempromosikan ShibuHallo sebagai acara komunitas, tahun ini pendekatan tersebut tidak lagi menjadi fokus.
Sebagai gantinya, pemerintah mengusung slogan "Goodbye Bad Halloween". Kampanye ini ditujukan untuk mencegah gangguan di ruang publik dan mengingatkan pengunjung agar tidak merusak kenyamanan lingkungan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian warga Shibuya, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana merayakan Halloween, melainkan bagaimana menjaga kawasan tempat mereka tinggal tetap nyaman di tengah popularitasnya sebagai destinasi wisata dunia.
Shibuya mungkin tetap menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Namun, semakin banyak orang yang datang juga berarti semakin besar tanggung jawab untuk menghormati warga dan lingkungan setempat.
(anm/asr)