Perjalanan kapal pesiar keliling dunia Villa Vie Odyssey terhenti secara mendadak dan menelantarkan para penumpangnya di Pelabuhan Sihanoukville, Kamboja.
CEO Villa Vie Residences, Kathy Villalba, akhirnya melayangkan permohonan maaf terbuka kepada para penghuni kapal atas krisis operasional tersebut.
Permohonan maaf disampaikan Villalba melalui pesan di platform komunikasi internal Circle pada Jumat (30/10). Ia mengaku sangat menyesali penderitaan, kerugian, dan ketidakpastian yang dialami para penumpang. Kendati demikian, unggahan pesan tersebut mendadak dihapus beberapa jam setelah ditayangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapal pesiar Odyssey semula dijadwalkan mengarungi samudera selama tiga setengah tahun sejak bertolak dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Program pelayaran ini menawarkan konsep hunian permanen di atas laut dengan target mengunjungi lebih dari 425 pelabuhan di 147 destinasi global.
Namun, petualangan tersebut terputus saat kapal bersandar di Sihanoukville, Kamboja, pada 23 Oktober. Kapal yang tiba dari Thailand tersebut semula dijadwalkan melanjutkan pelayaran menuju Vietnam pada 28 Oktober. Sayangnya, manajemen mendadak mengumumkan penghentian penuh seluruh aktivitas operasional pada 27 Oktober.
Pengumuman mendadak tersebut memaksa sebanyak 203 penumpang dan 156 awak kapal mengosongkan kabin. Para penghuni hanya diberi waktu sekitar tujuh jam untuk mengemasi seluruh barang bawaan dan turun dari kapal.
Sebagian penumpang memilih langsung berolah udara meninggalkan Kamboja, sementara sebagian lainnya terpaksa bertumpu pada akomodasi sementara di Kota Sihanoukville.
Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa penutupan operasional dipicu oleh lonjakan drastis biaya bahan bakar di wilayah Asia. Pengeluaran bahan bakar yang semula berada di kisaran rata-rata US$1.800 atau sekitar Rp32,8 juta per kabin setiap bulan, membengkak tajam menjadi US$6.000 hingga US$8.000 (sekitar Rp145 juta).
Sebelum mengambil keputusan ekstrem ini, pengelola sebenarnya telah berupaya menekan konsumsi energi dengan memperlambat laju kapal serta memperlama durasi bersandar di pelabuhan. Kendati demikian, skema efisiensi tersebut dinilai belum cukup untuk menutup tingginya pembengkakan beban biaya operasional.
Dalam memo yang sempat diunggahnya, Villalba mengaku masih menaruh harapan agar perusahaan dapat diselamatkan melalui masuknya investor baru. Ia menyebut proyek ini merupakan bagian besar dari hidupnya, serta mengibaratkan kapal Odyssey seperti anak kandungnya sendiri dan para penghuni sebagai bagian dari keluarga.
Villalba juga mengaku cukup tertekan oleh tingginya perhatian media massa terkait peristiwa ini. Atas saran dari tim penasihat hukumnya, ia memutuskan untuk menahan diri dari memberikan komentar publik lebih lanjut.
Melansir Business Insider, keberadaan pesan permohonan maaf yang sempat diunggah lalu dihapus tersebut turut dikonfirmasi oleh tiga penumpang kapal.
Hingga saat ini, manajemen Villa Vie Residences belum memberikan kepastian resmi mengenai kelanjutan masa depan operasional kapal Odyssey maupun kepastian hak para penumpang untuk melanjutkan perjalanan mereka.
(wiw)