Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu jadi perhatian serius. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan pemadaman sesegera mungkin karena sangat mengancam kesehatan terutama pada anak-anak. Berikut yang terjadi pada tubuh anak jika terus-menerus menghirup asap karhutla.
Khairiyadi, dokter spesialis anak subspesialis respirologi-konsultan di Kalimantan Selatan, bercerita ketika dirinya harus berhadapan dengan anak-anak yang mengeluhkan masalah pernapasan akibat asap karhutla.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dok, gimana supaya anak saya tidak lagi mengi?" kenang Khairiyadi dalam webinar bersama IDAI, Selasa (3/11).
"Ya ngungsi."
Akan tetapi, harus mengungsi ke mana? Dia berkata pergi ke wilayah lain pun masih saja terkena dampak karhutla.
Yang terjadi pada tubuh anak ketika menghirup asap karhutla
Pada akhir Oktober kemarin, hujan turun di Kalimantan Selatan. Khairiyadi berkata itu kali pertama hujan turun di sana. Air hujan memang cukup mampu meredakan kebakaran tapi kebakaran di lahan gambut tidak sesederhana memadamkan kebakaran biasa.
Perlu debit air lebih banyak hingga menggenangi lahan gambut agar api atau bara api benar-benar padam seluruhnya.
Dampak karhutla masih terasa. Kelompok rentan termasuk anak-anak dan remaja masih harus berhadapan dengan paparan asapnya.
"Anak usia kurang dari 5 tahun ini rentan karena saluran napasnya kecil, ventilasi tinggi sehingga bernapas lebih cepat. Kalau remaja ini karena paparan [asap] saat aktivitas di luar rumah," jelas Khairiyadi.
Asap karhutla mengandung elemen polutan berbahaya yakni PM 10 dan PM 2,5. Dia menambahkan PM 2,5 pada asap kebakaran lebih berbahaya ketimbang PM 2,5 pada letusan gunung api.
Asap karhutla terdiri dari komponen gas, partikel padat, dan partikel cair seperti polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), ozon, karbon monoksida, oksida nitrat, aldehydes, senyawa organik volatil (senyawa organik yang gampang menguap), silika, PM 2,5 dan PM 10.
Saat terhirup, PM 10 bakal tertahan di saluran napas atas (hidung dan faring). Namun PM 2,5 yang ukurannya lebih kecil bakal mencapai saluran napas bawah (bronkiolus dan alveoli).
Partikel kecil dan gas kemudian masuk ke sirkulasi lalu terdistribusi ke berbagai organ termasuk otak. Dari proses ini, menghirup asap karhutla dalam memicu dampak kesehatan antara lain sebagai berikut.
1. Stres oksidatif
Terjadi peningkatan pembentukan radikal bebas, kerusakan lipid, protein dan DNA sel epitel. Selain itu juga terjadi peningkatan peradangan atau inflamasi juga peningkatan sitokin.
2. Eksaserbasi asma
Anak dengan asma akan sering mengalami kambuh. Anak pun harus rutin mengonsumsi obat atau harus dirawat inap.
3. Infeksi saluran napas bawah
Infeksi saluran napas bawah seperti bronkiolitis dan pneuomnia. Masalah ini muncul diduga terkait perubahan respons imun dan disfungsi epitel.
4. Penurunan fungsi paru
Paparan terus-menerus bisa menurunkan fungsi paru anak, memicu gejala alergi hidung dan sinus, serta potensi masalah sistemik termasuk neurologis, kardiovaskular, dan metabolik.
(els)
