Produk pemanis pengganti gula kerap menjadi opsi utama bagi penderita diabetes maupun masyarakat yang sedang mengontrol berat badan.
Kendati dipasarkan sebagai alternatif yang lebih sehat, publik diimbau untuk lebih cermat lantaran tidak semua produk pemanis di pasaran berasal dari bahan alami.
Penggunaan pemanis buatan atau sintetis secara berlebihan justru berisiko memicu masalah kesehatan serius, mulai dari kelebihan berat badan, hipertensi, hingga penyakit jantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, mengalihkan pilihan pada pemanis alami yang diekstrak dari buah-buahan, tanaman, maupun madu menjadi langkah yang jauh lebih aman dan kaya gizi.
Belakangan publik ramai dengan dugaan peredaran produk pemanis alami stevia tetes yang mengandung bahan tambahan pangan (BTP). Padahal, kandungan itu tak seharusnya ada dalam pemanis alami. Sejauh masih ada kekhawatiran, tak ada salahnya mencoba pemanis selain stevia.
Berikut 5 Pengganti Gula Selain Stevia
Madu
Madu menjadi salah satu alternatif pengganti gula pasir yang tidak memicu lonjakan kadar gula darah secara mendadak. Pemanis alami ini kaya akan kandungan polifenol yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, mengendalikan gula darah, serta menekan risiko kanker. Namun, penggunanya tetap dianjurkan membatasi porsi mengingat madu masih menyimpan kalori sebesar 21 kalori per sendok makan.
Kurma
Selain madu, buah kurma menawarkan cita rasa manis khas yang dibarengi limpahan nutrisi seperti serat, vitamin B6, kalium, magnesium, serta senyawa antioksidan karotenoid dan polifenol. Meski mengandung sekitar 23 kalori per buah, gula alami pada kurma tidak langsung merusak kestabilan gula darah, sehingga sangat ideal dijadikan bahan pemanis untuk olahan kue kering maupun jus buah.
Xylitol
Bagi pencinta pemanis rendah kalori, xylitol yang diekstrak dari bahan alami seperti stroberi, rasberi, atau kembang kol dapat menjadi pilihan tepat. Dengan kandungan hanya 2,4 kalori per gram, xylitol tidak memengaruhi fungsi hormon insulin dan kadar gula darah, bahkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan gigi. Kendati demikian, konsumsi berlebih perlu dihindari guna mencegah efek samping berupa perut kembung dan diare.
Lo Han Kuo
Pilihan lain yang tak kalah populer adalah lo han kuo (monk fruit) asal Tiongkok Selatan yang memiliki tingkat kemanisan 150 hingga 200 kali lipat dibanding gula biasa. Ekstrak buah ini sepenuhnya bebas kalori dan karbohidrat serta terbukti membantu mengendalikan gula darah. Konsumen hanya perlu lebih teliti membaca label kemasan untuk memastikan tidak ada tambahan gula sintetis pada produk lo han kuo olahan.
Allulose
Sementara itu, allulose yang ditemukan pada buah tin dan kismis menyajikan tingkat kemanisan hingga 70 persen menyerupai gula pasir, tetapi hanya mengandung 0,2 kalori per gram. Karakteristik ini menjadikannya sangat ramah bagi penderita diabetes dan pelaku program diet, meski konsumsi secara berlebihan tetap berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan ringan seperti sakit perut.
Pentingnya Membatasi Asupan Pemanis Alami
Meskipun berasal dari sumber alami yang kaya manfaat kesehatan, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi bahan-bahan pemanis tersebut secara berlebihan.
Sebab, sebagian besar pemanis alami masih mengandung gula dan kalori yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi secara tidak terkontrol, penggunaannya justru dapat berbalik meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan fungsi jantung.
(wiw)