Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun di Kanada, Arjun Vishal Prajapati, menarik perhatian publik internasional setelah mencatatkan skor Intelligence Quotient (IQ) sebesar 141.
Capaian luar biasa tersebut mengungguli 99,7 persen populasi tes Stanford-Binet Intelligence Scales Edisi Kelima yang diikutinya saat berusia empat tahun 10 bulan.
Hasil tes tersebut secara otomatis memenuhi syarat bagi Arjun untuk bergabung dalam dua organisasi individu ber-IQ tinggi internasional sekaligus, yakni Mensa yang menyaratkan ambang batas skor 2 persen teratas populasi, serta Intertel yang menetapkan kriteria ketat pada rentang 1 persen teratas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir VN Express, atas intelektualitasnya yang langka, Arjun menerima Certificate of Recognition and Achievement di Majelis Legislatif Ontario pada 29 Oktober 2026.
Penyerahan sertifikat kehormatan dilakukan langsung oleh anggota parlemen dalam prosesi sidang resmi dengan didampingi kedua orang tua serta adik perempuannya.
Selain penghargaan dari parlemen daerah, Arjun juga memperoleh surat ucapan selamat khusus dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney serta Premier Ontario Doug Ford.
Bakat intelektual Arjun telah terlihat sejak balita. Ayahnya, Vishal Prajapati yang berprofesi sebagai dokter asal Gujarat, India, bersama sang ibu, Mahitha Thota seorang pengacara asal Hyderabad, memperkenalkannya pada buku-buku bergambar sejak bayi. Arjun telah mulai lancar membaca pada usia 18 bulan dan melahap lebih dari 3.000 buku saat menginjak usia lima tahun.
"Ayah, bagaimana kalau aku bosan? Aku harus punya setidaknya satu buku untuk dibaca!" ujar Arjun kepada ayahnya saat meminta selalu disediakan buku di dalam mobil untuk menemani perjalanan.
Ketertarikan mendalam Arjun pada bidang sains mengantarkannya menyelesaikan kursus pengayaan fisiologi manusia dan biologi sel yang diselenggarakan oleh Center for Talent Development di Northwestern University, Amerika Serikat. Pengetahuannya tentang kedokteran dan biologi bahkan memicunya untuk merancang gagasan inovasi medis sejak dini.
"Aku ingin membuat mesin yang bisa menemukan kuman segera setelah masuk dalam tubuh, sehingga dokter bisa membantu orang sebelum mereka sangat sakit," katanya.
Pemahaman biologi Arjun yang melampaui usianya kerap mengejutkan kedua orang tuanya. Saat mempelajari sistem reproduksi manusia, Arjun pernah berceletuk polos kepada ibunya.
"Syukurlah Ibu punya sel telur! Kalau tidak, aku dan adikku takkan pernah ada di dunia!" ucapnya.
Tak hanya biologi dan fisiologi tubuh manusia, Arjun juga menguasai matematika tingkat lanjut, seperti menghafal tabel perkalian 1 hingga 20 serta gemar mengotak-atik bilangan kuadrat, pangkat tiga, hingga pola angka.
Di samping itu, bocah yang bercita-cita menjadi astronot ini menyukai topik astronomi, fenomena lubang hitam, hingga pernah mempertanyakan dampak yang terjadi jika seseorang mengebor lubang menembus inti Bumi.
Pola Asuh Tanpa Tekanan Ambisi Orang Tua
Meski menorehkan prestasi intelektual fenomenal, kedua orang tua Arjun menegaskan tidak pernah memberikan tekanan atau memaksakan target tertentu kepada buah hati mereka. Bagi mereka, tugas orang tua adalah memfasilitasi dan merawat rasa ingin tahu anak.
"Kami percaya tiap anak memiliki minat, kekuatan, dan kemampuan unik. Tanggung jawab kami bukan memaksakan ambisi kami, melainkan mengenali minat, mendorong rasa ingin tahu, dan memberi kesempatan mengeksplorasi ketertarikannya," kata Vishal Prajapati.
Di luar aktivitas belajar dan sains, Arjun tetap menjalani kehidupan layaknya anak-anak seusianya dengan menikmati aktivitas melukis, bermusik, serta bermain bersama teman-teman dan adiknya. Sang ayah berharap Arjun tumbuh menjadi pribadi yang seimbang secara emosional dan karakter.
"IQ sangat tinggi tak boleh membebani atau mendefinisikan identitas anak. Kami ingin Arjun bangga dengan pencapaiannya, tapi kami juga ingin ia memahami kebaikan hati, kasih sayang, kerendahan hati, kegigihan, dan dedikasi sama pentingnya," tegas sang ayah.
(wiw)