Namun kondisi ini tak jadi alasan untuk seorang wanita, Mama Halosina untuk menyerah. Sehari-hari ibu, istri dan perempuan asli Papua ini berjuang melawan kekerasan dan diskriminasi.
Dari rumahnya di pedalaman Yahukimo, 5 jam perjalanan kaki dari pinggiran kota Wamena, Mama Halosina menghidupi diri dan anak-anaknya dengan berkebun. Suaminya, pergi meninggalkan Mama dan anak-anaknya untuk kawin lagi. Kesulitan menghimpit dan Mama harus pula menghadapi denda adat atas harapannya untuk mendapatkan dukungan dari para suami yang bertindak sekehendak hati itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT