Berita Film

Trik Nia Dinata Hadapi Kritik Untuk Filmnya

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 09/01/2015 19:50 WIB
Trik Nia Dinata Hadapi Kritik Untuk Filmnya Nia Dinata (Endro Priherdityo/ CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nia Dinata adalah salah satu sineas yang konsisten membuat film dengan tema anak-anak, feminisme, dan LGBT. Seringkali karyanya menuai banyak komentar, baik itu positif maupun pedas, karena dianggap sebagai tema yang sensitif di masyarakat Indonesia. Bagaimana sutradara Arisan! ini menghadapinya?

"Saya lebih cenderung membuat film tanpa melihat dari kaca mata apakah tema tertentu sensitif atau tidak. Tapi jika pada akhirnya sensitif bagi sebagian kalangan, ya itu konsekuensi sebuah karya, mohon maaf saja," cerita Nia saat bertandang ke kantor CNN Indonesia (9/1).

Beberapa karya Nia Dinata memang sering mengandung kritik sosial, terutama yang berkaitan mengenai kaum yang termarjinalkan. Keberanian Nia terus mengangkat kisah ataupun film berkenaan tema tersebut didasarkan keinginannya dalam menyampaikan suatu cerita.


Baginya, yang terpenting adalah kebutuhan orang untuk mengetahui kisah yang ingin ia sampaikan. Jikalau kisahnya akan memancing sebagian kalangan, ia tidak akan membalasnya dengan emosi juga.

Nia menceritakan pengalamannya berkenaan rilisnya film teranyarnya yang berupa dokumenter, Tanah Mama. Dalam film yang berkisah mengenai seorang ibu di Papua yang berusaha mempertahankan hidup di saat sang suami meninggalkan dirinya dan anak-anak untuk menikah kembali.

(Baca juga: 'Tanah Mama', Potret Perjuangan Perempuan di Tanah Papua)

Potret yang dibawa Nia rupanya banyak mengundang komentar dari berbagai kalangan, bahkan termasuk ibu-ibu aktivis pengajian. Mereka menceritakan bahwa dari menonton Tanah Mama, mereka menyadari kondisi sesungguhnya dari perempuan Papua.

Kelompok ibu-ibu tersebut pun menanyai Nia apa yang harus dilakukan untuk membantu ibu-ibu Papua.

"Saya cuma mengatakan, jika memang ingin menyelesaikan permasalahan mereka, jangan gunakan dari perspektif mereka, tapi gunakan dengan perspektif mereka sesuai dengan sumber daya yang dimiliki," ujar Nia.

Dirinya pun terus gigih mempromosikan film dokumenter tersebut. Nia melalui rumah produksi miliknya, Kalyana Shira, akan mengadakan nonton bareng film tersebut berupa layar tancap di daerah-daerah, termasuk di Papua sendiri.

Dalam rangka kegiatan tersebut, ia pun mengadakan promosi untuk mengajak penonton di kota ikut merasakan masyarakat Papua dengan cara mengirim foto tiket Tanah Mama melalui akun twitter dan dihubungkan ke akun twitter Kalyana Shira.

"Kami ingin penonton bioskop ikut merasakan Papua Experience." ujar Nia yang mengaku bahagia jika ada tiket Tanah Mama yang terjual, walaupun hanya satu-dua tiket.

(Lihat juga: Sajian Film Pekan Ini: Superhero Sampai Roh Berambut Panjang) (end/vga)