ACADEMY AWARDS
Celana Dalam Michael Keaton Pembawa Keberuntungan
Utami Widowati | CNN Indonesia
Senin, 23 Feb 2015 17:10 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Michael Keaton aktor kawakan yang sempat dinominasikan sebagai peraih Oscar lewat film Birdman memang tidak berjaya.
Tapi setidaknya celana dalam putih yang dikenakannya di Birdman sampai juga ke panggung Academy Awards. Sama sekali bukan yang dikenakan Neil Patrick Harris sebagai pembawa acara.
Celana dalam Keaton dipakai oleh sang sutradara film Birdman, Alejandro Gonzalez Innaritu sebagai jimat keberuntungan. Setidaknya itulah yang diakui Innaritu saat menerima Oscar sebagai sutradara terbaik.
“Malam ini, saya mengenakan celana dalam putih milik Michael Keaton yang ketat itu, “ kata Innaritu seperti dikutip E! Online. “Rasanya sesak, baunya khas, tapi berhasil. Saya sampai di sini. Terima kasih, Michael!”
Entah benar atau sekadar guyon, Innaritu lantas berbicara lebih serius setelah menuai tawa para undangan. “Bicara soal hal kecil menyebalkan itu, ego. Ego suka akan kompetisi. Bagi sebagian orang untuk jadi pemenang, sebagian lagi jadi pecundang,” katanya.
“Namun paradoks itulah sebenarnya seni sejati, ekspresi individu sejati yang terjalin di antara para rekan sineas tak bisa dibandingkan, tak bisa dilabeli, tak bisa dikalahkan karena itu ada. Dan karya kami hanya bisa dinilai lewat waktu.” (utw/vga)
Tapi setidaknya celana dalam putih yang dikenakannya di Birdman sampai juga ke panggung Academy Awards. Sama sekali bukan yang dikenakan Neil Patrick Harris sebagai pembawa acara.
Celana dalam Keaton dipakai oleh sang sutradara film Birdman, Alejandro Gonzalez Innaritu sebagai jimat keberuntungan. Setidaknya itulah yang diakui Innaritu saat menerima Oscar sebagai sutradara terbaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Entah benar atau sekadar guyon, Innaritu lantas berbicara lebih serius setelah menuai tawa para undangan. “Bicara soal hal kecil menyebalkan itu, ego. Ego suka akan kompetisi. Bagi sebagian orang untuk jadi pemenang, sebagian lagi jadi pecundang,” katanya.
“Namun paradoks itulah sebenarnya seni sejati, ekspresi individu sejati yang terjalin di antara para rekan sineas tak bisa dibandingkan, tak bisa dilabeli, tak bisa dikalahkan karena itu ada. Dan karya kami hanya bisa dinilai lewat waktu.” (utw/vga)