Frankfurt Book Fair, Rimba Buku Tertua di Dunia

Vega Probo, CNN Indonesia | Rabu, 25/02/2015 18:01 WIB
Frankfurt Book Fair, Rimba Buku Tertua di Dunia Suasana Frankfurt Book Fair tahun lalu. Delegasi Indonesia diwakili tiga chef William Wongso, Sandra Johan, dan Petty Elliott, yang menerbitkan buku masak. (Getty Images/Hannelore Foerster)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa pun yang pernah mengikuti Frankfurt Book Fair (FBF) di Jerman tentu sepakat ajang ini tak ubahnya rimba buku. Di sini, para profesional industri buku dunia—format cetak maupun digital—berguyub dan mengkreasikan hal baru.

Dari penerbit, penjual, agen, produser film sampai penulis buku turut berpartisipasi di pameran buku tertua dan terbesar di dunia ini. FBF sudah digelar sejak abad ke-15, seiring diciptakan mesin tik untuk pertama kali oleh Johannes Gutenberg.

Tahun ini, FBF yang juga dikenal dengan Frankfurter Buchmesse siap digelar pada 14-18 Oktober. Berlokasi di Frankfurter Messe (Frankfurt Trade Fair), kompleks bangunan seluas hampir 37 hektare. Sekali lagi, Indonesia turut berpartisipasi.


Saban tahunnya, FBF menampilkan lebih dari tujuh ribu partisipan pameran asal 100 negara, dari Albania sampai Zimbabwe. Tak kurang 10 ribu jurnalis siap meliput acara yang dijejali 300 ribu pengunjung ini.

Tahun lalu, pakar kuliner William Wongso serta chef Sandra Johan dan Petty Elliott berpartisipasi di FBF. Sembari memamerkan buku masak masing-masing, ketiganya juga menyajikan masakan khas Indonesia, dari mi goreng sampai asinan buah.

“Tahun sebelumnya, kami menyajikan rendang, dan antrean pengunjung mengular panjang sekali,” kata William Wongso, sebelum berangkat ke FBF tahun lalu. Selain buku masak karya ketiga chef, juga dipamerkan buku Pulang karya Leila S. Chudori.

Penulis Peter Weidhaas, yang menjabat direktur pameran periode 1975-2000, mengisahkan, Raja Henry VIII pernah mengutus Sir Thomas Bodley untuk memborong buku-buku di FBF demi menambah koleksi perpustakaan Oxford University.

Publikasi buku di Frankfurt sempat terganjal larangan kalangan rohaniawan Katolik dan Protestan, pada abad ke-17. Pada 1949, pasca Perang Dunia II, atmosfer FBF diperbarui oleh 205 peserta pameran asal Jerman.

Sejak itu, FBF berkembang pesat, hingga berskala internasional. FBF juga menyajikan seminar edukasi, antara lain bertema publikasi elektronik dan efek media sosial terhadap publikasi. Selain arena buku, tentu saja ada arena kuliner.

“Di era digital, format buku cetak berubah menjadi e-book. Salah satu yang masih bertahan: industri buku masak,” jelas Claudia Kaiser, vice president for business development FBF tahun lalu. Arena kuliner FBF sekaligus memperkenalkan buku masak dan masakannya.

Tahun ini, Indonesia mendapat kesempatan istimewa sebagai Tamu Kehormatan atau Guest of Honour FBF. Para delegasi siap berdiplomasi budaya  antara lain lewat program I-Lit (buku terjemahan), diskusi, pertunjukan seni dan kuliner.

(vga/vga)