Indonesia Wajib Apresiasi Sineas Lokal

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2015 14:25 WIB
Wregas Bhanuteja merasa puas menikmati karya sineas yang diperlakukan sangat baik di Berlinale, selayaknya karya seni yang berharga. Wregas Bhanuteja sangat terkesan dengan profesionalitas penyeleggaraan Berlinale. (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi satu dari dua sineas Indonesia yang mewakili Tanah Air dalam ajang Berlin International Film Festival pada Februari lalu, membawa pengalaman yang tak ternilai bagi seorang Wregas Bhanuteja.

Film Wregas yang berjudul Lembusura terpilih menjadi salah satu film pendek yang ditampilkan dalam Berlinale 2015. Film tersebut menceritakan kisah legenda Lembusura, setan yang menyebabkan hujan abu di Jawa.

Untuk ke Berlinare, Lembusura berkompetisi dengan 27 film pendek lainnya dari 18 negara, seperti Amerika Serikat, India, Perancis, Jerman, Swedia, Spanyol, Austria, Brasil, dan Jepang. 


Ketika ditemui CNN Indonesia pada acara pembukaan XXI Short Film Festival (XXI SFF) Rabu (18/3) malam, Wregas mengisahkan keseruannya mengikuti salah satu festival film terbesar di dunia tersebut.

"Di Berlinale, semua sineas menunjukkan kecintaannya terhadap film. Bagi saya itu dahsyat, karena ide mereka sangat beraneka ragam!" kata Wregas kepada CNN Indonesia.

Selain karena pertama kali menjejakkan kaki di tanah Eropa, Wregas juga bangga karena bisa menjadi salah satu dari finalis Berlinale, yang sangat prestisius bagi sineas.

"Saya benar-benar keluar dari kotak saya dan merasa benar-benar kecil di dunia ini. Orang-orang sangat menghargai film di sana," katanya alumnus Institut Kesenian Jakarta itu.

Wregas pun sangat terkesan dengan profesionalitas penyeleggaraan Berlinale. Ia merasa puas menikmati karya sineas lain yang diperlakukan dengan sangat baik, selayaknya karya seni yang berharga.

"Yang perlu diperbaiki dari Indonesia adalah bagaimana orang menghargai sebuah film".Wregas Bhanuteja
Berbeda dengan yang ada di Indonesia, Wregas pun memberikan komentarnya untuk perbaikan festival film di Indonesia.

"Yang perlu diperbaiki dari Indonesia adalah bagaimana orang menghargai sebuah film, Berlinale sangat menghargai sineas dan karyanya," ujar Wregas.

Selain Wregas, ada film Onomastika karya Loeloe Hendra yang menceritakan seorang anak di Tenggarong, Kalimantan Timur yang tak memiliki nama hingga berusia 10 tahun.

Film Onomastika juga dikompetisikan menghadapi 65 film dari 35 negara di dunia sebelum menuju Berlinale.

Dalam XXI SFF tahun ini, Wregas pun menampilkan salah satu karyanya yang berjudul Lemantun, yang menceritakan tentang sebuah warisan dari orang tua kepada anaknya.

Film Lemantun dijadwalkan akan tayang bersama film pendek kategori Short Fiction Competition lainnya di XXI Epicentrum Kuningan, Sabtu (21/3) pada pukul 15.10 WIB.

[Gambas:Youtube]

[Gambas:Youtube] (ard/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK