Film itu masuk kategori Movie of the Year, bersaing dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, Marmut Merah Jambu, 99 Cahaya di Langit Eropa, dan Soekarno: Indonesia Merdeka. Sedang pemeran utama wanitanya, Chelsea Islan masuk nominasi kategori Actress of the Year.
Lukman menilai acara-acara penghargaan menjadi bentuk apresiasi tersendiri bagi mereka yang berkecimpung dalam industri kreatif. Semakin banyak acara penghargaan, ujar Lukman, semakin kaya pula industri kreatif Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski semakin banyak ajang penghargaan bisa berarti mulai bangkitnya perfilman Indonesia, Lukman menilai ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Sebagai sineas yang sudah malang melintang di dunia perfilman, Lukman tahu seluk-beluk memajukan film Indonesia.
Setiap peristiwa dari kehidupan, diakui Lukman dapat menjadi sebuah cerita yang baik dan menarik. Tergantung sudut pandang dan teknik seperti apa yang digunakan. Jika itu bisa dikembangkan, khazanah perfilman semakin kaya.
Bintang Rectoverso itu membuat kisah Abraham Lincoln sebagai contoh. Hollywood telah mengkreasikannya dengan berbagai sudut pandang dan imajinasi. Mulai Lincoln sebagai presiden, sampai menjadi seorang pemburu vampir.
Intinya, kreativitas harus dikembangkan. Lukman sendiri telah menerapkan gagasannya itu dalam film kontroversial Di Balik 98. Film itu mengisahkan mahasiswa dengan latar kekisruhan Mei 1998 silam. Ada beberapa sudut pandang, mulai dari mahasiswa, pegawai Istana Presiden, pemulung, hingga tentara.
(rsa/vga)