Dari total 27 kategori, dua di antaranya Program Religi serta Host dan Presenter Program Religi digugurkan, karena dianggap tak lagi valid sebagai kompetisi.
Pengumuman ini disampaikan Ketua Panitia PGA 2015 Wendy Sofyan dalam acara syukuran yang diadakan di Ballroom Fairmont Hotel, pada Kamis (28/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PGA Bersih dari Tontonan Horor dan Seks |
Saat CNN Indonesia menanyakan lebih jauh soal nama lembaga atau individu yang memberikan masukan tersebut, Wendy tidak bersedia membeberkan secara spesifik.
Wendy menambahkan, beberapa hari terakhir, banyak kritik yang dialamatkan untuk dua kategori ini via media sosial. Salah satunya dicuitkan oleh akun @remotivi via Twitter.
Dalam sederet cuitan yang ditayangkan pada 25 Mei itu, pemilik akun @remotivi menemukan, "ada inkonsistensi dalam membuat kategorisasi: berdasarkan format/genre atau isi/muatan tayangan."
“Di sini, ‘religi’ diposisikan sebagai genre, sejajar dengan ‘infotainment,’ ‘berita,’ ‘talkshow,’ ‘variety show,’ dll. @PGAwards.” Demikian bunyi salah satu cuitan @remotivi.
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
"Kayaknya enggak etis kalau sesama ustaz kita pertandingkan, kita perlombakan, nanti akan muncul isu lain,” kata Wendy. Panitia PGA pun menetapkan semua nomine kebagian penghargaan.
“Jadi kelima-limanya semua dapat,” kata Wendy. “Kami berikan sebagai apresiasi. Kami memang tidak melakukan secara on-air. Jadi kami ingin menekan isu-isu miring, terutama isu SARA.”
Dengan demikian, Abdel Achrian, Tengku Wisnu, Ustaz Maulana, Mamah Dedeh dan Ustaz Yusuf Mansur selaku nomine kategori Host dan Presenter Program Religi tak saling bersaing.
Begitu juga nomine kategori Program Religi: Jalan Hikmah, Mamah dan Aa Beraksi, Mengetuk Pintu Hati, Syiar Akbar Ramadan, dan Tabligh Akbar. Kelimanya sama-sama diapresiasi.
“Kami enggak mau event ini menjadi konsumsi politik,” kata Wendy seraya mencontohkan kasus tabloid Monitor, pada 1990, yang dikenai sanksi karena membuat daftar tokoh terpopuler.
Dalam daftar “sensitif” tersebut, Nabi Muhammad menempati urutan ke-sekian di bawah sejumlah tokoh Indonesia, termasuk sang Pemimpin Redaksi Monitor Arswendo Atmowiloto.
“Itu masalah popularitas akhirnya jadi masalah panjang," tutur Wendy. Maka panitia PGA pun menggugurkan kedua kategori tersebut, agar “jangan sampai ini dilarikan jadi masalah politis.”
(vga/vga)