Tahun ini, untuk pertama kali, penghargaan bergengsi ini dianugerahkan oleh Duta Besar Perancis Corinne Breuze kepada tokoh pers Indonesia, Pia Alisjahbana, di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin malam (9/6).
“Sesungguhnya pencapaian Ibu Pia Alisjahbana secara pribadi dan profesional sangat mengesankan bagi kami,” kata Breuze dalam pidatonya. Ia sekaligus memuji peranan Pia “mengubah cara wanita Indonesia dalam memandang diri mereka sendiri.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya tak pernah menyangka akan mendapat penghargaan itu," kata Pia. Semula ia mengira penghargaan tersebut dianugerahkan atas kiprahnya mengikutsertakan anak-anak muda dalam lomba Concours Internationale des Jeunes Createurs de Mode di Perancis.
Sementara di bidang media, mantan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini melahirkan Majalah Femina dan Gadis, pada awal 1970-an, yang disusul belasan majalah dan media lain, termasuk di antaranya waralaba asing.
Lalu, di bidang fesyen, ia menggagas Lomba Perancang Mode, sejak 1979. Ajang ini menelurkan perancang busana berbakat, Edward Hutabarat, Sally Koeswanto, Itang Yunasz hingga Tex Saverio, yang kini namanya kian mendunia.
Di bidang budaya, Pia turut mendirikan Badan Pelestari Pusaka Indonesia. Sekalipun berusia lanjut, ia tetap aktif mengikuti kegiatannya, dari melarung lampion di Sungai Progo dekat Candi Borobudur, juga menanam pohon di Kebun Raya Samosir di Danau Toba.
Rekam jejak aktivitas dan pemikiran perempuan kelahiran 26 Juli 1933, ini terangkum dalam buku Menembus Zaman, Sebuah Memoar Pia Alisjahbana. Svida Alisjahbana memuji sang ibu sebagai, “salah satu pahlawan modern Indonesia, lambang Kartini modern.”
(vga/vga)