Ketika itu, pria yang kini dikenal lewat tulisan-tulisan konyol dan cerdasnya dalam buku Drunken Monster, masih berstatus mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).
Wilayah kekuasaannya tak terlalu luas, hanya 8x10 meter, letaknya di lantai dua Gedung FSRD ITB. Penduduknya pun tak padat. Hanya 18 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Meliarkan Imajinasi Lewat Dongeng Kamishibai |
"Saat itu juga saya adakan Muktamar The Panasdalam di Dago Tea House. Kami harus memutuskan tetap di 'negara' sendiri atau gabung NKRI," kata Pidi.
"Rakyat The Panasdalam sangat kaya. Rokok saja impor dari Indonesia. Hanya di sana, saya bisa memandang luar negeri hanya dengan duduk di jendela," kelakarnya sambil sesekali membenarkan posisi topi cokelatnya di hadapan peserta Temu Jurnalis, Blogger, dan Penulis di Jakarta.
Akhirnya, The Panasdalam memutuskan untuk kembali bergabung dalam kesatuan Republik Indonesia. "Kami jadi Daerah Istimewa The Panasdalam," ucapnya sambil terkekeh.
"Akhirnya kami jadikan band. Saya rasa, hanya The Panasdalam satu-satunya negara yang jadi band. Kami bukan menolak masuk surga (Indonesia). Bagi saya, lautan itu indah, tapi diri ini ikan air tawar yang kalau masuk laut pasti mati. Lebih baik di empang yang kecil, tapi nyaman," tuturnya mulai bermuka serius.
“Saya ini cinta Indonesia, juga Malaysia, Iran, Palestina, Irak, Belanda. Cinta kasih saya melewati tapal batas. Saya adalah warga negara dunia. Bagi saya, nasionalisme itu cinta berhenti di perbatasan," ujar Pidi.
Menurut Pidi, cinta kasih tidak seharusnya memandang bulu. Siapa pun yang teraniaya harus dibela. "Saya cinta Israel dan Palestina, tapi bela yang teraniaya," katanya.
"Jangan karena agama jadi berbuat tidak adil. Siapa pun yang berbuat zalim, akan saya runtuhkan," ucapnya.
Seakan tak mau berlama-lama terbakar emosi, Pidi akhirnya mengambil gitar dan menyiram keteduhan dengan petikannya. "Aku mau nyanyi aja, ah. Dulu aku punya anjing yang aku kasih nama Kucing. Ini lagunya," katanya sambil bersiap mendekap kotak bersenar.
Lagu berirama blues tersebut mengalun. Dengan riang, Ayah bernyanyi, "Aku punya anjing, kuberi nama kucing. Anjing musuhnya kucing. Dia memusuhi diri sendiri."
Beberapa menit Pidi mengisi ruangan dengan kegirangan. Ia pun menutup nyanyiannya dengan berkata, "Anjing memusuhi dirinya sendiri. Jihad yang sesungguhnya adalah melawan musuh dalam diri sendiri."
Tanpa emosi memantik, Pidi menyampaikan kritik. Dalam banyolan, Pidi menyelipkan pesan. Sang Ayah pun mengaku tidak takut mempertanggungjawabkan semuanya.
"Nanti kalau di kuburan ditanya malaikat, 'Kenapa ambil bakwan lima, ngakunya cuma satu?' Aku jawab, 'Ini kan akhirat, bukan dunia. Ngapain dibahas lagi?' Sesungguhnya dunia itu senda gurau," ucap Pidi, tersenyum lebar.
(hanna azarya samosir/vga)