Seakan menabrak batas, semua berdialog, bercanda dan berbicara tentang hal-hal kebangsaan. Yang lebih mengherankan, para penonton yang sebagian besar anak muda terlihat terhibur dan menikmati tontonan hingga usai.
Suasana itu terlihat dalam Pagelaran Mahakarya Wayang Urban persembahan Mahakarya Indonesia yang diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau wayang asli atau wayang hasil re-interpretasi, ya sah-sah saja dijadikan panutan. Wayang memang harus mengikuti perkembangan zaman agar tetap menarik, asal jangan keluar dari pakem cerita," kata Rizal.
Nanang pun menjelaskan alasannya "meng-kota-kan" seni wayang yang diusungnya. Ia mengatakan, tidak ingin Wayang Urban dianggap berasal dari Pulau Jawa, melainkan wayang dari dan untuk Indonesia.
"Saya memang sedang berusaha memopulerkan wayang kembali agar digemari semua lapisan masyarakat, salah satunya dengan cara Wayang Urban ini. Agar pohonnya semakin tinggi, akarnya juga harus semakin kuat. Jadi saya berkreasi setinggi mungkin dari unsur seni yang kuat, yaitu wayang," ujar Nanang.
Lakon Sumantri dan Sukrasana dipilih Nanang karena selain menghibur, ceritanya juga banyak mengandung empat nilai luhur bangsa yang disebutkan di atas.
Aksi Yayan "Mad Dog" Ruhiyan di Pagelaran Wayang Sumantri Sukrasana. (CNNIndonesia/Safir Makki) |
Prabu pun memerintahkan Sumantri untuk melakukannya. Saat sedang berjalan-jalan di tamannya, Dewi Citrawati tidak sengaja melihat Sukrasana yang sebelumnya membantu Sumantri. Dewi Citrawati pun terkejut dan tidak sengaja Sumantri memanah Sukrasana.
Bukan hanya Nanang yang kesulitan mengartikan kembali cerita tersebut menjadi baru. Yayan, yang "hanya" kebagian beradegan silat juga merasakannya..
"Ini adalah hal baru bagi saya. Tapi untuk berkembang, sebuah kesenian tidak bisa berdiri sendiri dan harus berkolaborasi. Dengan kesabaran dan ketekunan, saya dan teman-teman sudah percaya diri untuk tampil di Wayang Urban," ujar Yayan.
Di akhir jumpa pers, Rizal menambahkan, kesenian daerah dengan banyak amanat tidak hanya wayang dan yang berasal dari Jawa saja.
Ia berharap para dalang juga semakin kreatif dan tidak melulu menampilkan cerita wayang Rama dan Shinta atau Mahabrata, karena seperti Sumantri dan Sukrasana, masih banyak lakon wayang yang mungkin mampu dijadikan panutan untuk bangsa yang sedang krisis nilai. (ard/vga)
Aksi Yayan "Mad Dog" Ruhiyan di Pagelaran Wayang Sumantri Sukrasana. (CNNIndonesia/Safir Makki)