Mengingat Empat Pilar Bangsa dalam Tontonan 'Wayang Urban'

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Kamis, 11/06/2015 18:37 WIB
Lakon Sumantri dan Sukrasana dipilih dalang Nanang Hape karena selain menghibur, ceritanya juga mengandung empat nilai luhur bangsa. Dalang Nanang Hape membawakan lakon Sumantri dan Sukrasana, yang bisa dijadikan panutan untuk bangsa. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang dalang bermonolog tentang tokoh perwayangan Sumantri dan Sukrasana diiringi oleh alunan gamelan. Tidak lama, terdengar iringan musik pop jazz yang mengantar kehadiran sekelompok pemuda berpenampilan modern ke atas panggung.

Seakan menabrak batas, semua berdialog, bercanda dan berbicara tentang hal-hal kebangsaan. Yang lebih mengherankan, para penonton yang sebagian besar anak muda terlihat terhibur dan menikmati tontonan hingga usai.

Suasana itu terlihat dalam Pagelaran Mahakarya Wayang Urban persembahan Mahakarya Indonesia yang diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Rabu (10/6).


Dan sang dalang, Nanang Hape, bisa dibilang sebagai pencetus wayang kekinian tersebut. Tidak hanya menyederhanakan plot dan dialog, Nanang juga menambahkan kesenian lain yaitu silat, yang diperagakan oleh pemeran Mad Dog dalam film The Raid, Yayan Ruhiyan.

Sebelum pagelaran dimulai, sesi jumpa pers diselenggarakan terlebih dahulu. Menemani Nanang dan Yayan, hadir pula sejarawan J.J. Rizal yang mengaku sangat mengapresiasi Wayang Urban.

Menurut Rizal, cerita wayang masih layak dijadikan panutan untuk masyarakat zaman sekarang, apalagi saat ini masyarakat seakan mengalami krisis nilai. Disebutkan Rizal, cerita wayang memiliki banyak nilai luhur yang menjadi pilar bangsa Indonesia, yaitu gotong royong, kerendahan hati, kesabaran dan kegigihan.

"Mau wayang asli atau wayang hasil re-interpretasi, ya sah-sah saja dijadikan panutan. Wayang memang harus mengikuti perkembangan zaman agar tetap menarik, asal jangan keluar dari pakem cerita," kata Rizal.

Nanang pun menjelaskan alasannya "meng-kota-kan" seni wayang yang diusungnya. Ia mengatakan, tidak ingin Wayang Urban dianggap berasal dari Pulau Jawa, melainkan wayang dari dan untuk Indonesia.

"Saya memang sedang berusaha memopulerkan wayang kembali agar digemari semua lapisan masyarakat, salah satunya dengan cara Wayang Urban ini. Agar pohonnya semakin tinggi, akarnya juga harus semakin kuat. Jadi saya berkreasi setinggi mungkin dari unsur seni yang kuat, yaitu wayang," ujar Nanang.

Lakon Sumantri dan Sukrasana dipilih Nanang karena selain menghibur, ceritanya juga banyak mengandung empat nilai luhur bangsa yang disebutkan di atas.

Aksi Yayan "Mad Dog" Ruhiyan di Pagelaran Wayang Sumantri Sukrasana. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Sumantri dan Sukrasana merupakan kakak beradik yang terlahir dengan rupa berbeda. Persoalan demi persoalan terjadi, puncaknya adalah ketika Prabu Harjunasasra diminta Dewi Citrawati memindahkan Taman Sriwedari di Magada ke Maespati dalam semalam.

Prabu pun memerintahkan Sumantri untuk melakukannya. Saat sedang berjalan-jalan di tamannya, Dewi Citrawati tidak sengaja melihat Sukrasana yang sebelumnya membantu Sumantri. Dewi Citrawati pun terkejut dan tidak sengaja Sumantri memanah Sukrasana.

Bukan hanya Nanang yang kesulitan mengartikan kembali cerita tersebut menjadi baru. Yayan, yang "hanya" kebagian beradegan silat juga merasakannya..

"Ini adalah hal baru bagi saya. Tapi untuk berkembang, sebuah kesenian tidak bisa berdiri sendiri dan harus berkolaborasi. Dengan kesabaran dan ketekunan, saya dan teman-teman sudah percaya diri untuk tampil di Wayang Urban," ujar Yayan.

Di akhir jumpa pers, Rizal menambahkan, kesenian daerah dengan banyak amanat tidak hanya wayang dan yang berasal dari Jawa saja.

Ia berharap para dalang juga semakin kreatif dan tidak melulu menampilkan cerita wayang Rama dan Shinta atau Mahabrata, karena seperti Sumantri dan Sukrasana, masih banyak lakon wayang yang mungkin mampu dijadikan panutan untuk bangsa yang sedang krisis nilai. (ard/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK