Dalam jumpa pers yang diadakan baru-baru ini di kawasan Kebayoran, Jakarta, keduanya berbagi kisah merintis Kaskus. Andrew tak mengira Kaskus mencapai titik ini Dia merasa kesuksesan situsnya seperti "mimpi."
"Dari cuma tugas sekolah, dipakai buat share informasi, jual beli barang, sharing foto dan video, emang enggak pernah kepikiran," kata Andrew. "Sampai sekarang pun masih ngerasa ini bener atau enggak ya."
Lihat juga:Juragan Kaskus Sundul Mimpi Jadi Inspirasi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semasa kuliah, Ken melihat perbedaan mencolok antara penggunaan internet di Indonesia dan AS. Menurutnya, dulu, penggunaan internet di Indonesia terbilang mewah, karena akses dan kecepatan masih terbatas. Sementara di AS, hampir tiap aspek kehidupan dibantu internet.
"Kami hadir di waktu yang tepat lah waktu itu," tukas Ken yang kembali ke Tanah Air, pada 2008. Saat itu juga mereka memindahkan semua server ke Indonesia.
"Kami enggak sadar seberapa besar Kaskus di Indonesia. Yang kami pikir: enggak ada lah yang pakai Kaskus," kata Ken. "Kami enggak sadar, waktu itu, orang-orang di sekeliling kami udah pakai Kaskus."
Lalu, Ken menceritakan pengalamannya suatu kali membeli server di pusat perbelanjaan elektronik di kawasan Mangga Dua, Jakarta. "Pas kami beli, mereka nanya, 'Beli begini banyak buat apaan? Emang lu segede Kaskus?'" ujar Ken menirukan ucapan si penjual.
Berbeda dengan Ken, Andrew yang sudah mulai merintis pekerjaan di Amerika awalnya tak ingin kembali ke Indonesia. Menurutnya jika kembali ke Indonesia, dia tidak bisa mengembalikan modalnya untuk berkuliah.
"Paling memorable itu pas dia maksa gue balik. Dia bilang, mau ajak jalan-jalan. Ternyata dia udah ada plan buat Kaskus. Ken ajak gue ke Mal Taman Anggrek," ujar Andrew.
"Jadi pas nunggu di kafe, ada orang ketawa-tawa, taunya lagi ngaskus," Andrew menambahkan. "Itu pertama kali gue liat orang ngaskus live. Ternyata yang kami bikin ada yang pakai." (vga/vga)