Takashi Miike, sutradara kontroversial asal Jepang, kembali menyuguhkan tontonan yang tak disangka. Ia pun merekrut aktor Indonesia sebagai salah satu pemeran utama dalam filmnya, Yayan Ruhiyan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak yang tidak tahu Kamiura adalah seorang vampir. Meski begitu, ia sangat dihormati oleh penduduk sekitar dan dianggap sebagai pelindung masyarakat.
Di tengah sekarat, Kamiura masih sempat untuk menitipkan pesan terakhirnya kepada pengikutnya yang paling setia, Kageyama. Dirinya pun turut mengubah Kageyama dari seorang pria dengan kulit sensitif menjadi sosok vampir yang haus darah dan dendam.
Minimnya warisan ilmu dan perebutan kekuasaan menjadikan Kageyama memasuki masalah terbesar dalam hidupnya. Dimulailah babak demi babak pertempuran hidup-mati Yakuza atas nama kehormatan dan kekuasaan.
Miike dikenal sebagai sutradara yang kontroversial lantaran tanpa sungkan untuk mengekspos beragam kekerasan ataupun adegan berdarah-darah lainnya. Salah satu karyanya, Ichi the Killer (2001), pernah dilarang masuk Inggris bila tanpa menggunakan sensor ketat karena menggambarkan dengan gamblang kekerasan dan sadomasokis.
Yayan Ruhiyan dalam film Yakuza Apocalypse. (Dok. Pratama Film) |
Film bertema mafia dan komedi memang sudah banyak, namun Miike tampaknya mencoba menawarkan jenis komedi yang unik dan di luar batas imajinasi penonton tanpa menghilangkan unsur budaya serta mitologi Jepang.
Dirinya menggunakan beberapa makhluk mitologi Jepang, seperti Kappa, atau makhluk yang memiliki bentuk tubuh mirip manusia namun dengan punggung bercangkang, jari berselaput, dan mulut berupa paruh.
Tak lupa dengan kehadiran "katak" misterius yang sanggup membuat alur cerita menjadi segar dan menjadi jenaka. Bila diperhatikan seksama, Miike membuat kisah "katak" ini seperti mirip menonton serial Ultraman ataupun Godzilla asli Jepang.
Miike tak pernah memberikan kesempatan penonton untuk menebak jalan cerita hingga film benar-benar usai. Meski seringkali komedi terasa hambar, namun keberadaan komedi tersebut setidaknya sedikit menurunkan tensi darah yang meninggi akibat melihat pertempuran sengit.
Miike juga sukses memadupadankan aksi bela diri yang memukau dengan kualitas akting yang sepadan antara Yayan Ruhiyan dan aktor Jepang, Hayato Ichihara.
Meski Ichihara bukan termasuk aktor Jepang yang akrab di Indonesia, namun kualitas akting dan secara penampilan Ichihara cukup menarik perhatian penonton. Yayan pun tampak tak terkendala meski menjadi satu-satunya pemain di luar Jepang.
Salah satu adegan dalam film Yakuza Apocalypse. (Dok. Pratama Film) |
Film ini diragukan akan dapat lolos sensor Lembaga Sensor Film di Indonesia, lantaran penggambaran kekerasan dan aksi bunuh-membunuh yang termasuk brutal.
Kalaupun lolos, akan terlalu banyak potongan cerita yang hilang lantaran sensor. Namun bagi pecinta film aksi gangster ataupun film Jepang lainnya, Yakuza Apocalypse ini cukup dapat diterima.
Yakuza Apocalypse rilis perdana dalam momen Director Fortnight Cannes Film Festival pada Mei 2015 lalu. Film ini masuk menjadi satu-satunya dalam sesi special screening dan ditonton oleh para sutradara dan undangan khusus Cannes Film Festival.
Bagi pengunjung bioskop yang ingin menonton film ini, pastikan Anda tidak takut atau fobia melihat senjata tajam ataupun darah dan potongan tubuh. Disarankan tidak memasuki bioskop dengan perut penuh.
[Gambas:Youtube] (ard/ard)
Yayan Ruhiyan dalam film Yakuza Apocalypse. (Dok. Pratama Film)
Salah satu adegan dalam film Yakuza Apocalypse. (Dok. Pratama Film)