Diam-diam, dalam kurun 11 tahun terakhir, GCN sudah melanglang dunia untuk menampilkan kesenian tari Indonesia di pentas mancanegara. Mereka menampilkan tari dari Aceh, Sumatra Barat, Melayu, Betawi, Jawa Barat, Bali, Kalimantan hingga Sumatra Selatan.
Kali ini, GCN siap menggandeng Kiny Tours untuk mengikuti acara kebudayaan rutin di Tiongkok, pada 3 Agustus. Kabar ini disampaikan dalam acara jumpa pers di kawasan Kebayoran, Jakarta, belum lama ini.
Lihat juga:Jemari Pianis Cilik Indonesia Menyihir Dunia |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anggaran pendidikan kita besar, 20 persen. Nah, dana kesenian itu hanya dua persen dari itu. Penghargaan terhadap budaya memang kecil dari segi anggaran," imbuh Rully.
GCN pernah menjadi juara satu Superdance from Folk to Modern di St. Petersburg, Rusia. Sanggar tari ini dapat tampil di luar negeri lewat rekomendasi Kemenparekraf, Kemendikbud dan Djarum Bakti Budaya.
"Kami memang sudah melalui suka dan duka selama berkesenian, tapi satu hal yang selalu saya tekankan pada murid-murid adalah komitmen. Komitmen untuk mengembangkan dan melestarikan budaya Indonesia. Tidak hanya komitmen berkesenian tapi juga meningkatkan disiplin dan memperbaiki diri," papar Mira.
Sejauh ini, murid GCN sudah mencapai 400 orang. Salah satu anggota GCN, Cinta Swittins juga membagi kisahnya menari bersama GCN. Putri instruktur musik Elsa Siregar ini sudah tiga juara bersama GCN.
Saat berkolaborasi dengan SD Islam Al Ikhlas, GCN juga pernah meraih juara satu Grand Pirx de Folklore 23, International Dance Festival for Children di Damgarten, Jerman, dan XX International Dance Festival Gorzow, pada 2013.
Selain itu, sanggar tari ini juga rutin tampil di KBRI dan KJRI berbagai negara, seperti Italia, Inggris, Spanyol, Saudi Arabia, Jepang dan Swiss. Kita patut angkat topi bagi kiprah GCN mengharumkan nama Indonesia di penjuru dunia!
(vga/vga)