Tak bisa dipungkiri, kiblat perfilman dunia itu telah menciptakan pasar baru yang bisa digarap perusahaan apa saja, dari negara mana saja. Sejak aturan untuk drone di Hollywood melunak tahun lalu, seakan terjadi "ledakan" di dunia perfilman. Pemasangan kamera di teknologi nirawak itu kian marak.
Meski harganya bisa mencapai US$100 ribu atau Rp 1,3 miliar per kamera drone, angka itu dianggap jauh lebih murah dibanding teknologi konvensional. Ada perbedaan harga yang signifikan dibanding menyewa crane, helikopter, dan orang-orang yang mengoperasikannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka drone dianggap sebagai jawaban terbaik untuk pengambilan gambar-gambar film dari atas.
Pembuat drone di Selandia Baru telah berpengalaman membuat inovasi bidang film, seperti animasi untuk The Lord of the Rings dan teknologi penangkap gerakan serta pembaca mimik wajah untuk Avatar. Pemerintah Selandia Baru bahkan sangat mendukung iklim itu.
"Banyak perusahaan teknologi drone memulai dengan film yang dibuat khusus dan sektor fotografi. Dan industri film Selandia Baru punya reputasi global sebagai teknologi lanjutan di bidang film," kata Chris Thomson dari Callaghan Innovation.
Itu lonjakan yang tinggi, dibanding pada 2014 yang hanya senilai US$6,4 miliar atau Rp 85 triliun.
Seperti disinggung sebelumnya, Selandia Baru punya keunggulan atas drone dengan adanya perusahaan Aeronavics. Itu pembuat drone pertama yang mendapat izin terbang. Perusahaan berbasis Raglan itu berencana meluncurkan satu set drone dengan spesialisasi memotret untuk film, broadcast, dan olahraga.
"Sampai sekarang kami hanya produksi drone dan pelanggan berpikir bagaimana itu berguna untuk mereka. Akan ada solusi dari A sampai Z untuk aplikasi berbeda," kata Linda Bulk, salah satu penggagas perusahaan Aeronavics.
(rsa/vga)