Dalam perbincangan dengan CNN Indonesia di Kendari, Sulawesi Tenggara, kemarin (19/8) Anggi mengaku banyak menemukan ide menarik. Festival Film Antikorupsi memang tidak hanya memutar film dan menggelar talkshow. Mereka juga menyaring ide dari proposal film.
"Di sini menarik, karena ada anak-anak muda yang gelisah tentang pendidikan, seperti sistem pendidikan yang kurang baik, dosen yang nyambi, banyak cerita yang menggugah," tuturnya. Di Denpasar Bali, ia juga menemukan ide sederhana yang ternyata menarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, dengan pengerucutan tema antikorupsi, anak muda jadi lebih kreatif dan peka menggali isu.
"Caranya harus terus-menerus didorong. Kalau tidak dengan festival film seperti ini, ya dengan menonton film. Film pemenang KPK misalnya, kirim saja ke tempat lain dan diputar terus," katanya. Ia pernah melakukan hal yang sama di Yogyakarta, dahulu.
"Memangnya dulu Yogya banyak yang bikin film seperti sekarang? Kami melakukan seperti itu terus-menerus. Kita bukan hanya membuat, tapi juga menonton. Karena dengan menonton orang akan terinspirasi," ujar sutradara film Kisah Cinta yang Asu. Semakin banyak menonton, semakin tahu film bagus.
Suasana talkshow di Festival Film Antikorupsi 2015, Kendari (19/8). (CNNIndonesia/Rizky Sekar Afrisia) |
"Dengan film, apalagi film pendek, bisa di-sharing lebih banyak, lewat ponsel misalnya," ucap Anggi. YouTube juga dianggapnya mampu menjangkau khalayak film lebih luas. Apalagi untuk film pendek, yang durasinya tak sampai 30 menit. Lewat media itu, pesan film tersampaikan.
Asal, film itu bisa mengemas ide cerita yang kuat dalam durasi singkat. Untuk itu, kata Anggi, sineas harus tahu apa yang mau dibuat dan mencari cara menceritakan itu secara sederhana, tanpa mengawang-awang. Jika film sudah dibuat seperti itu, tinggal masalah penyebarannya.
"Kalau melihat sisi bisnis bioskopnya, itu masalah lain. Wajar bagi saya kalau film penontonnya sedikit lalu diturunkan. Kita cari media lain."
Upaya yang harus dilakukan untuk mempromosikan film pendek dan bertema serius seperti antikorupsi diakuinya memang butuh energi ekstra. "Tapi effort-nya memang harus besar, karena media mainstream tidak mendukung kita," Anggi menyampaikan pendapat.
(rsa/vga)
Suasana talkshow di Festival Film Antikorupsi 2015, Kendari (19/8). (CNNIndonesia/Rizky Sekar Afrisia)