Dalam sebuah acara bincang-bincang dengan Jimmy Kimmel, belum lama ini, Garfield mengaku sebelum ke Hollywood ia mengalami perjuangan berat untuk mewujudkan mimpi menjadi aktor. Awal kariernya ternyata sangat sulit.
Seperti pejuang lain, tidak terkecuali aktor-aktor yang kini kondang, ia pernah mengalami suatu masa di mana dirinya harus bekerja sambilan. Karena menjadi aktor muda yang baru bermain di film-film kecil dengan peran tak seberapa, tak cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berpikir, film John Hughes lah yang saya tunggu untuk menjelma nyata," ujar Garfield. Ia membayangkan dirinya menjadi barista dengan gadis-gadis berkaca mata dan membaca sastra berkeliaran di sekitar Golders Green--sebuah wilayah di London, Inggris. Ia ingin mengencani mereka semua.
Tentu saja, Garfield tidak hidup dalam dunia Hughes yang dramatis. Ia tidak selamanya menjadi barista. Kariernya menanjak. Nama Garfield muncul sejak membintangi Lions for Lambs, pada 2007. Setelah debutnya di layar lebar itu, ia mulai "laku."
Ia semakin mencuri perhatian saat menjadi pemeran pendukung dalam The Social Network, pada 2010. Perannya masuk nominasi Golden Globe dan BAFTA. Pria 32 tahun itu makin populer setelah terlibat dalam The Amazing Spider-Man dan sekuelnya. Sayang, ia tak diikutkan dalam reboot Spider-Man yang baru.
Saat ini, Garfield disibukkan film 99 Homes yang mengharuskannya berpenampilan gondrong. Dalam film itu ia bukan hanya bintang tetapi juga produser. Garfield juga terlibat dalam film Martin Scorsese, Silence.
(rsa/vga)