Cross pernah melakukan "tugas mulia" itu saat menulis After Tomorrow, novel tentang dua kakak beradik Inggris yang menjadi imigran di Perancis.
Di laman The Guardian, Cross mengungkapkan, ide menulis kisah itu didapatnya saat membaca buku tentang pengungsi Sudan di Chad, lima atau enam tahun lalu. Kejadiannya jauh sebelum krisis pengungsi yang melanda Eropa seperti sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cross mengatakan, ia tak sembarangan saat menulis cerita tentang pengungsi, termasuk keseharian dan penderitaan mereka. Ia harus mencari alasan mengapa tokohnya menjadi imigran, dan membuat semua detail dalam cerita itu senyata mungkin.
"Orang-orang tidak meninggalkan rumah mereka tanpa alasan, dan saya tidak mau melebih-lebihkan itu."
Beruntung Cross membuat latar ceritanya di tempat yang ia tahu, Inggris dan Perancis. Jadi ia bisa tahu betul detail kondisi serta bagaimana perasaan anak kecil yang meninggalkan rumah. "Semua dirasakan pengungsi. Perasaan meninggalkan tempat yang mereka kenal, adalah bagian yang perlu kita pahami tentang krisis saat ini," lanjut Cross.
Ia juga mengeksplor hal lain, yakni bahasa. Kebanyakan pengungsi datang dari negara yang bahasanya berbeda dengan destinasi mereka. Pun demikian dengan budaya. "Penting untuk menyadari betapa asingnya Eropa bagi mereka dan betapa sulitnya hidup di tempat yang segalanya tidak dikenal serta sulit dimengerti," jelasnya.
Sisi-sisi itulah yang biasanya dieksplorasi oleh buku fiksi, sehingga pembacanya lebih tersentuh. Meski labelnya fiksi, detail-detail harus dibuat seakurat mungkin agar lebih terasa bagi pembaca.
Dengan demikian, tulis Cross, buku bisa membantu memahami orang lain yang jauh berbeda dari pembaca, di mana pun orang itu berada. Peran itu jauh lebih vital dari yang pernah ada. Cerita fiksi membantu itu karena mereka mengajak pembaca masuk ke kisahnya, mengeksplorasi tiap sudut.
Dengan buku fiksi, orang-orang bisa mengubah perspektif "mereka" dan "kita." (rsa/vga)