Seniman Berdarah Suriah Bersuara lewat Lukisan

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2015 18:11 WIB
Seniman Berdarah Suriah Bersuara lewat Lukisan Situs bersejarah Suriah yang hancur menjadi sumber inspirasi seniman Tammam Azzam . (Detikcom Reuters/Sandra Auger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Krisis Suriah, yang berujung pada membeludaknya imigran ke tanah Eropa dan Amerika, menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia. Berbagai pihak punya opini masing-masing atas itu. Salah satu seniman asal Suriah, Tammam Azzam punya cara sendiri mengemukakan suaranya melawan krisis itu.

Azzam menggunakan cara yang dikenalnya dengan baik: seni. Diberitakan Independent, ia menggabungkan lukisan-lukisan terkenal dengan puing-puing bangunan Suriah untuk menarik perhatian atas tragedi yang terjadi di negeri itu.

Salah satu lukisan yang digunakannya milik Gustav Klimt. Karya terkenal berjudul The Kiss itu dipadukan oleh Azzam dengan bangunan Suriah yang hancur terkena ledakan bom. Karya itu dinamainya Freedom Graffiti. Azzam pun menjelaskan alasannya.


"Saya memilihnya sebagai ikon dari cinta, sebagai cara melihat cerita-cerita cinta di balik dinding ini yang sudah hancur oleh mesin perang," katanya. Ada elemen kritik yang ingin ia sampaikan saat menggunakan kembali lukisan terkenal milik Barat.

Misalnya, saat ia memadukan lukisan Van Gogh dengan puing reruntuhan gedung. Atau gedung hancur yang diterbangkan balon ke atas menara kembar WTC, sebagaimana foto terkenal pesawat yang menabraknya, atau dikenal sebagai terorisme 9/11.

"Kita semua warga negara dari dunia yang sama," ujar Azzam ketika diminta menjelaskan mengapa sisi korban dan "pelaku" itu harus disandingkan.

Azzam merupakan salah satu seniman yang saat ini sedang menggelar pameran di Dismaland. Selain melalui pameran itu, Azzam juga bersuara dengan mendonasikan hasil pamerannya di ART4PEACE di London. Kini, ia pun mengungkapkan kegelisahannya terhadap permasalahan banjir imigran Suriah.

"Orang-orang telah putus asa. Mereka merasa tidak ada salahnya mencoba. Mereka lebih memilih mengambil risiko tenggelam di Mediterania daripada harus tinggal dan menderita di bawah dua ancaman, tentara Assad dan ISIS," ujarnya menjelaskan.

Azzam sendiri meninggalkan Suriah menuju Dubai beberapa tahun lalu, dan kini sukses jadi seniman. Ia telah merasakan menjadi imigran. "Mereka hanya ingin tetap hidup. Kami tidak ingin menjadi beban, hanya butuh bantuan dari komunitas internasional." (rsa/rsa)