"Di kuliah tidak dikenalkan. Saya tahu karena saya suka saja," kata Jerry Thung, pelukis lulusan Institut Kesenian Jakarta. Menurutnya, ada upaya pelabelan yang keliru dari sekitar masa 1930-an. Saat itu, Basoeki dianggap "menyempal" dari aliran umum yang berkembang.
Basoeki berbeda dari pelukis seperti Soedjojono dan Affandi. Ia disebut pelukis salon. "Gaulnya sama kaum elite, melukis potret tokoh-tokoh besar. Dia kan mainnya dari istana ke istana," kata Jerry saat diwawancara CNN Indonesia beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jerry sendiri mengenal Basoeki sejak lulus SMA. Ia pernah menganggur dua tahun sebelum mengambil kuliah karena harus mengumpulkan uang lebih dahulu. Caranya dengan melukis, dan Basoeki lah panutannya kala itu. Bahkan, Jerry meniru lukisan sang idola saat diminta membawa karya pada hari pertamanya berkuliah di IKJ.
Saat ditanya siapa pelukis yang ia tahu, Jerry menjawab hanya Basoeki dan Affandi. "Baru setelah kuliah saya tahu ada pelukis lain," ia bercerita. Uniknya, Basoeki justru tidak banyak diajarkan karena citra elite-nya.
Meski pribadinya terkesan eksklusif, tidak demikian dengan karyanya. Harga lukisan Basoeki memang mencapai miliaran rupiah. Namun lukisan itu begitu terkenal dan banyak diduplikasi pelukis lain. Dari situlah Jerry sendiri pertama mengetahui adanya Basoeki.
"Dia pelukis unik dan sangat populer waktu sama SMA, sekitar 1980-an. Banyak karya dia yang dibuat di kalender-kalender dan buku-buku, saking bagus dan populernya," ujarnya.
Karya itu bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. "Sampai kawan saya yang enggak tahu lukisan, bisa langsung tahu tentang lukisan Nyi Roro Kidul, meskipun dia tidak tahu Basoeki Abdullah," kata Jerry.
Sosok-sosok yang pernah dilukis Basoeki dengan sangat ikoniknya, menurut Jerry, sudah merasuk ke memori banyak orang Indonesia. "Yang memasukkan itu ya Basoeki Abdullah," katanya. (rsa)