"Sejak pertama sudah ada keberatan dari pemerintah lokal," kata Hanna saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (23/10). Terutama, pada segala hal yang bertema 1965. Kebetulan, karena tahun ini Indonesia memeringati 50 tahun G30S dan genosida, tema itu menguat.
Di UWRF 2015 sendiri terdapat tiga diskusi panel, satu pemutaran film, dan pameran serta peluncuran buku terkait tema itu. Ketiganya pun terpaksa dibatalkan setelah diskusi di Mapolres Gianyar, Jumat (23/10) siang tadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur festival, Janet Denefee pun kecewa dengan pembatalan itu. Selama bertahun-tahun UWRF diselenggarakan, belum ada "sensor" semacam itu. Menurutnya, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, itu tamparan keras.
"Ini sungguh mengecewakan dan mungkin bisa dikatakan sebagai sikap pengecut pemerintah untuk menolak mendiskusikan tragedi nasional," tuturnya. "Sepertinya sensor sedang tren lagi," ia melanjutkan ungkapan kekecewaannya.
Kekecewaan juga datang dari Oppenheimer, yang telah menginjakkan kaki di Indonesia sejak 2000-an dan melakukan investigasi soal peristiwa 1965. Dua film telah ia telurkan, The Act of Killing dari sudut pandang pembantai dan The Look of Silence soal korban.
"Saya pikir ini bagian dari pembatasan kebebasan berekspresi," tuturnya melalui surel pada Fairfax Media. "Ini menjengkelkan. Saya khawatir ini bagian dari penegasan kembali kekuasaan oleh negara," kata Oppenheimer lagi.