Petikan gitar Iga dan T.J. Kusuma saling beradu, menyihir keramaian di Rossi Musik. Tabuhan drum dari Marco Steffiano seperti petir menggelegar. Petikan bass Gerald Situmorang mengantar musik syahdu Barasuara, ditemani suara merdu Puti Chitara dan Asteriska.
Barasuara telah berhasil merebut hati para masyarakat dengan musik mereka. Buktinya, tiket yang dibanderol Rp100 ribu per lembar untuk Konser Taifun ludes dalam waktu singkat: kurang dari 24 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya perihal konsep Konser Taifun, Iga menjawab dengan penuh semangat dan berapi-api.
Membahas tentang album perdana grup band-nya, Iga menceritakan, "Awalnya, semua dimulai dari ketidaksengajaan, sebuah kecelakaan yang indah. Saya memiliki beberapa lagu untuk diproduksi, daripada tidak dipakai ya saya ajak teman-teman saya untuk latihan."
Taifun berisi sembilan lagu, antara lain Bahas Bahasa, Api dan Lentera serta Sendu Melagu.
"Taifun itu sangat penuh harapan dan pemikiran. Lagu ini tentang petuah dan pedoman hidup saya," Iga kembali menjelaskan.
Respon positif datang dari rekan musisi lainnya. Arian, vokalis grup band Seringai, mengatakan bahwa album Taifun adalah hasil dari kerja keras Iga dan kawan-kawan.
"Mungkin ini hanya sebuah CD, tapi menyaksikan Konser Taifun semalam, (album) ini adalah hasil kerja keras," tulis Arian dalam akun Twitter-nya.
Barasuara pun berterima kasih kepada setiap pengunjung yang datang ke Rossi Musik, pada malam itu, serta mengapresiasi segala bentuk dukungan yang diberikan masyarakat kepada mereka dengan kehadiran Taifun ini.
"Untuk setiap orang yang datang, bekerja dan mengatur jalannya Konser Taifun adalah orang yang sangat penting bagi perjalanan karier kami," kata Iga. "Kami sangat berterima kasih untuk semua yang hadir di Konser Taifun. Anda menorehkan sejarah untuk kami." (vga/vga)