Bersiasat Menjadi Penulis Lepas

, CNN Indonesia | Kamis, 05/11/2015 14:17 WIB
Pekerjaan sebagai ghostwriter mengasyikkan karena penghasilan besar. Namun ada kalanya mendebarkan bila proyek tulisan gagal di tengah jalan. Ilustrasi penulis lepas (StokPic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan saya mengundurkan diri dari sebuah perusahaan penerbitan di kawasan Kuningan, Jakarta, pada pengujung 2006, terbilang nekat. Pasalnya, saya belum diterima bekerja di perusahaan baru mana pun.

Namun berbekal jaringan, saya langsung mendapatkan pekerjaan sebagai penulis lepas dari beberapa kenalan editor. Dibanding kerja kantoran dulu, kerja lepasan yang saya lakoni kurun 2007-2008 ini terbilang lebih berwarna!

Saya tak lagi menjalani hari-hari yang monoton: melewati jalan, mendatangi kantor dan menemui rekan kerja yang itu-itu saja. Saya lebih bebas ke sana kemari, mengatur jadwal kerja yang fleksibel, dan beroleh penghasilan lebih baik.


Sebagai penulis lepas, saya, yang sebelumnya berfokus pada isu perempuan—karena memang bekerja di majalah khusus perempuan—harus membiasakan diri membuat tulisan dengan berbagai isu, dari kesehatan, anak-anak, arsitektur, kuliner sampai fesyen.

Semula, tidak mudah menuliskan isu-isu tersebut mengingat saya tidak terbiasa. Namun pekerjaan sebagai penulis lepas menuntut saya menempa diri. Dan memang benar peribahasa yang menyatakan: di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Tak lagi menerima gaji tetap, mau tak mau agar bisa bertahan hidup, saya menerima apa pun tawaran dari editor atau klien yang menggunakan jasa saya sebagai penulis lepas, termasuk menjadi ghost writer, penulis bayangan.  

Saya menjadi ghost writer untuk “editor super sibuk” yang tidak punya waktu untuk mewawancarai narasumber, mengumpulkan data, dan menulis, selain mengedit tulisan. Saya senang hati membantu sang editor, kawan baik semasa pernah sekantor.

Penghasilan ghostwriter cukup menggiurkan. Untuk satu proyek buku saja nilai penghasilan saya dua hingga tiga kali gaji wartawan media lokal. Saya pikir, tak apalah tak tercantum akreditasi nama, toh yang terpenting saya masih bisa menulis dan membagi inspirasi.

Ritme pekerjaan saya sebagai ghostwriter buku untuk seorang desainer aksesori sangat menyenangkan. Tak ada “tegangan tinggi” layaknya di kantor, sekalipun hampir setiap hari saya ke rumahnya di selatan Jakarta untuk menggali materi tulisan.  

Melihat karya sang desainer aksesori yang indah, saya pun menggambarkannya dengan kata-kata yang tak kalah indah. Belakangan saya menyadari, keindahan karya maupun kata-kata itu tak selaras dengan karakter sang desainer aksesori yang ceria.

“Wah, saya jadi puitis banget,” sang desainer aksesori mengomentari tulisan saya sembari tertawa. Toh begitu baik sang klien maupun editor tak mengubah tulisan saya. Namun saya belajar untuk lebih memperhatikan karakter narasumber.

Di lain kesempatan, saya mengerjakan proyek buku lain, masih sebagai ghostwriter. Tak semuanya berjalan mulus. Ada kalanya berhenti di tengah jalan. Seperti ketika saya membantu penulisan buku seorang pengusaha yang juga ketua organisasi olahraga.

Pengusaha itu telah lama mangkat. Sang istrilah yang meminta dibuatkan biografi. Kami pun menyusun nama narasumber, termasuk atlet di organisasi olahraga yang diketuai sang pengusaha. Saya pun mewawancarai beberapa atlet.

Ternyata mereka mengungkap fakta yang tak mengenakkan tentang sang pengusaha. Salah seorang atlet menilai sang pengusaha sebagai sosok culas yang tega “merampas” honor-honornya sebagai model iklan beberapa produk olahraga.

Sang pengusaha berdalih, honor itu digunakan untuk pengembangan organisasi olahraga dan atlet. Namun kenyataannya sungguh bertolak belakang. Saya menuliskan apa adanya pernyataan sang atlet, dan istri pengusaha tersebut tak terima.

Agaknya ia tak mengetahui, semasa hidup suaminya kerap berbuat curang terhadap atlet dan organisasi olaharaga yang diketuainya. Padahal ia ingin membuat biografi yang indah tentang mendiang. Lalu, ia mengurungkan niat dan membuyarkan proyek buku.

Seketika saya merasakan pahit yang dirasakan sang atlet. Setelah  susah payah berusaha, proyek buku dibatalkan begitu saja. Sekalipun sedih, saya mendapat pembelajaran berharga: kontrak kerja harus memuat “force majeure” seperti ini.

Honor boleh dikatakan hal sensitif bagi penulis lepas, terlebih ghostwriter. Sudahlah namanya tak tercantum di akreditasi, masa kan harus menelangsa menunggu honor yang tak menentu datangnya. Untuk itu, penulis lepas harus bersikap tegas.

Segala bentuk komunikasi dengan berbagai pihak—klien, editor maupun narasumber— sebaiknya dicatat atau direkam, bukan sekadar lisan. Hal ini berguna bila kelak terjadi “force majeure” di mana pihak lain bisa saja sewaktu-waktu mangkir dari tanggung jawab.

Bukti tertulis sangat membantu jika kelak mengajukan suatu keberatan. Terlepas dari “drama” itu, pekerjaan sebagai penulis lepas memang menyenangkan. Namun tak cocok bagi mereka yang mengejar karier dan biaya perlindungan pekerja.

Penulis lepas bekerja sendiri. Jika terjadi apa-apa pun ditanggung sendiri. Berbeda halnya jika klien bersedia menanggung asuransi dan risiko lain pekerjaan. Kadang ada klien yang tak mau menanggung sama sekali selain honor yang disepakati.

Penghasilan penulis lepas murni penghasilan kotor. Karena itu, nilai penghasilan kerja lepasan diusahakan lebih besar ketimbang gaji kerja kantoran, mengingat ada biaya-biaya lain yang harus ditanggung dan diambil dari penghasilan sendiri.

Ada baiknya penulis lepas juga mempunyai tabungan cukup dan kartu kredit untuk berjaga-jaga kala situasi darurat. Ada kalanya klien tidak segera membayar honor, karena pembayaran diatur per termin atau setelah proyek tulisan selesai.

Nah, kartu kredit ini yang bisa diandalkan jika ada jadwal dan pengeluaran tambahan yang harus dibayarkan, sementara sedang tak memiliki uang tunai yang cukup. Tentu saja, kartu kredit digunakan secara tepat, pada saat darurat saja.

Penulis lepas tidak bisa bergantung pada satu pintu rezeki atau satu klien saja. Buka jaringan dan cari klien sebanyak yang bisa ditangani. Terlalu banyak klien juga menyebabkan pekerjaan tak bisa terselesaikan dengan baik, bahkan mengacaukan jadwal lain.

Dengan banyak klien maka pemasukan sebagai penulis lepas tidak terputus. Karena bagian paling menakutkan bagi penulis lepas adalah saat tak ada klien sama sekali atau klien tak puas dengan hasil pekerjaan. Itu pertanda yang buruk bagi penulis lepas.

Yang tak kalah penting: memelihara hubungan baik dengan klien, walaupun proyek sudah selesai. Jangan sungkan bertegur sapa via SMS atau media sosial. Biarkan nama penulis lepas melekat di benak para klien. Dengan begitu, pekerjaan sebagai penulis lepas bisa berkelanjutan.

(vga/vga)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA